.. إِنَّكَ لا تَهدى مَن أَحبَبتَ وَلٰكِنَّ اللَّهَ يَهدى مَن يَشاءُ ۚ وَهُوَ أَعلَمُ بِالمُهتَدينَ ..

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu sayangi, tetapi Allah memberi petunjuk
kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk." (AlQasas 28: 56)

Live Streaming

Bismillahirrohmaanirrohiim

"Engkau tidak akan menjadi seorang alim hingga engkau menjadi orang yang
belajar. Dan engkau tidak dianggap alim tentang suatu ilmu, sampai
engkau mengamalkannya."
...Abud Darda' Radhiallahu anhu...

05 December 2010

Lihatlah, Siapa Temanmu...!

Lihatlah, Siapa Temanmu…!

Penulis: Bintu Humron

“Ketahuilah, bahwasanya tidak dibenarkan seseorang mengambil setiap orang jadi sahabatnya, tetapi dia harus mampu memilih kriteria-kriteria orang yang dijadikannya teman, baik dari segi sifat-sifatnya, perangai-perangainya atau lainnya yang bisa menimbulkan gairah berteman sesuai pula dengan manfaat yang bisa diperoleh dari persahabatan tersebut itu. Ada manusia yang berteman karena tendensi dunia, seperti karena harta, kedudukan atau sekedar senang melihat- lihat dan bisa ngobrol saja, tetapi itu bukan tujuan kita.”

“Apabila engkau berada di tengah-tengah suatu kaum maka pililhlah orang-orang yang baik sebagai sahabat, dan janganlah engkau bersahabat dengan orang-orang jahat sehingga engkau akan binasa bersamanya”

Wanita adalah bagian dari kehidupan manusia, sehingga dia tak akan pernah lepas dari pola interaksi dengan sesama. Terlebih dominasi perasaan yang melekat pada dirinya, membuat dia butuh teman tempat mengadu, tempat bertukar pikiran dan bermusyawarah. Berbagai problem hidup yang dialami menjadikan dia berfikir bahwa, meminta pendapat, saran dan nasehat teman adalah suatu hal yang perlu. Maka teman sangat vital bagi kehidupannya, siapa sih yang tidak butuh teman dalam hidup ini..?.”

Namun wanita muslimah adalah wanita yang dipupuk dengan keimanan dan dididik dengan pola interaksi Islami. Maka pandangan Islam dalam memilih teman adalah barometernya, karena dirinya sadar, teman yang baik (shalihah) memiliki pengaruh besar dalam menjaga keistiqomahan agamanya. Selain itu teman shalihah adalah sebenar-benar teman yang akan membawa mashlahat dan manfaat. Maka dalam pergaulannya dia akan memilih teman yang baik dan shalihah, yang benar-benar memberikan kecintaan yang tulus, selalu memberi nasihat, tidak curang dan menunjukan kebaikan. Karena bergaul dengan wanita-wanita shalihah dan menjadikannya sebagai teman selalu mendatangkan manfaat dan pahala yang besar, juga akan membuka hati untuk menerima kebenaran. maka kebanyakan teman akan jadi teladan bagi temannya yang lain dalam akhlak dan tingkah laku. Seperti ungkapan “Janganlah kau tanyakan seseorang pada orangnya, tapi tanyakan pada temannya. karena setiap orang mengikuti temannya”.

Bertolak dari sinilah maka wanita muslimah senantiasa dituntut untuk dapat memilih teman, juga lingkungan pergaulan yang tak akan menambah dirinya melainkan ketakwaan dan keluhuran jiwa. Sesungguhnya Rasulullah juga telah menganjurkan untuk memilih teman yang baik (shalihah) dan berhati-hati dari teman yang jelek.

Hal ini telah dimisalkan oleh Rasulullah melalui ungkapannya:

“Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik (shalihah) dan teman yang jahat adalah seperti pembawa minyak wangi dan peniup api pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan mencipratkan minyak wanginya itu atau engkau menibeli darinya atau engkau hanya akan mencium aroma harmznya itu. Sedangkan peniup api tukang besi mungkin akan membakar bajumu atau engkau akan mencium darinya bau yang tidak sedap“.

(Riwayat Bukhari, kitab Buyuu’, Fathul Bari 4/323 dan Muslim kitab Albir 4/2026)1

Dari petunjuk agamanya, wanita muslimah akan mengetahui bahwa teman itu ada dua macam. Pertama, teman yang shalihah, dia laksana pembawa minyak wangi yang menyebarkan aroma harum dan wewangian. Kedua teman yang jelek laksana peniup api pandai besi, orang yang disisinya akan terkena asap, percikan api atau sesak nafas, karena bau yang tak enak.

Maka alangkah bagusnya nasehat Bakr bin Abdullah Abu Zaid, ketika baliau berkata,” Hati- ¬hatilah dari teman yang jelek …!, karena sesungguhnya tabiat itu suka meniru, dan manusia seperti serombongan burung yang mereka diberi naluri untuk meniru dengan yang lainnya. Maka hati-hatilah bergaul dengan orang yang seperti itu, karena dia akan celaka, hati- hatilah karena usaha preventif lebih mudah dari pada mengobati “.

Maka pandai-pandailah dalam memilih teman, carilah orang yang bisa membantumu untuk mencapai apa yang engkau cari . Dan bisa mendekatkan diri pada Rabbmu, bisa memberikan saran dan petunjuk untuk mencapai tujuan muliamu.

Maka perhatikanlah dengan detail teman-¬temanmu itu, karena teman ada bermacam-macam

• ada teman yang bisa memberikan manfaat

• ada teman yang bisa memberikan kesenangan (kelezatan)

• dan ada yang bisa memberikan keutamaan.

Adapun dua jenis yang pertama itu rapuh dan mudah terputus karena terputus sebab-sebabnya. Adapun jenis ketiga, maka itulah yang dimaksud persahabatan sejati. Adanya interaksi timbal balik karena kokohnya keutamaan masing-masing keduanya. Namun jenis ini pula yang sulit dicari. (Hilyah Tholabul ‘ilmi, Bakr Abdullah Abu Zaid halarnan 47-48)

Memang tidak akan pernah lepas dari benak hati wanita muslimah yang benar-benar sadar pada saat memilih teman, bahwa manusia itu seperti barang tambang, ada kualitasnya bagus dan ada yang jelek. Demikian halnya manusia, seperti dijelaskan Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam :

” Manusia itu adalah barang tambang seperti emas dan perak, yang paling baik diantara mereka pada zaman jahiliyyah adalah yang paling baik pada zaman Islam jika mereka mengerti. Dan ruh- ruh itu seperti pasukan tentara yang dikerahkan, yang saling kenal akan akrab dan yang tidak dikenal akan dijauhi ” (Riwayat Muslim)

Wanita muslimah yang jujur hanya akan sejalan dengan wanita-wanita shalihah, bertakwa dan berakhlak mulia, sehingga tidak dengan setiap orang dan sembarang orang dia berteman, tetapi dia memilih dan melihat siapa temannya. Walaupun memang, jika kita mencari atau memilih teman yang benar-benar bersih sama sekali dari aib, tentu kita tidak akan mendapatkannya. Namun, seandainya kebaikannya itu lebih banyak daripada sifat jeleknya, itu sudah mencukupi.

Maka Syaikh Ahmad bin ‘Abdurrahman bin Qudamah al-Maqdisi atau terkenal dengan nama Ibnu Qudamah AlMaqdisi memberikan nasehatnya juga dalam memilih teman: “Ketahuilah, bahwasannya tidak dibenarkan seseorang mengambil setiap orang jadi sahabatnya, tetapi dia harus mampu memilih kriteria-kriteria orang yang dijadikannya teman, baik dari segi sifat- sifatnya, perangai-perangainya atau lainnya yang bisa menimbulkan gairah berteman sesuai pula dengan manfaat yang bisa diperoleh dari persahabatan tersebut itu. Ada manusia yang berteman karena tendensi dunia, seperti karena harta, kedudukan atau sekedar senang melihat-lihat dan bisa ngobrol saja, tetapi itu bukan tujuan kita.

Ada pula orang yang berteman karena kepentingan Dien (agama), dalarn hal inipun ada yang karena ingin mengambil faidah dari ilmu dan amalnya, karena kemuliaannya atau karena mengharap pertolongan dalam berbagai kepentingannya. Tapi, kesimpulan dari semua itu orang yang diharapkan jadi teman hendaklah memenuhi lima kriteria berikut; Dia cerdas (berakal), berakhlak baik, tidak fasiq, bukan ahli bid’ah dan tidak rakus dunia. Mengapa harus demikian ?, karena kecerdasan adalah sebagai modal utama, tak ada kabaikan jika berteman dengan orang dungu, karena terkadang ia ingin menolongmu tapi malah mencelakakanmu. Adapun orang yang berakhlak baik, itu harus. Karena terkadang orang yang cerdas pun kalau sedang marah atau dikuasai emosi, dia akan menuruti hawa nafsunya. Maka tak baik pula berteman dengan orang cerdas tetapi tidak berahlak. Sedangkan orang fasiq, dia tidak punya rasa takut kepada Allah. Dan barang siapa tidak takut pada Allah, maka kamu tidak akan aman dari tipu daya dan kedengkiannya, Dia juga tidak dapat dipercaya. Kalau ahli bid’ah jika kita bergaul dengannya dikhawatirkan kita akan terpengaruh dengan jeleknya kebid’ahannya itu. (Mukhtasor Minhajul Qasidin, Ibnu Qudamah hal 99).

Maka wanita muslimah yang benar-benar sadar dan mendapat pancaran sinar agama, tidak akan merasa terhina akibat bergaul dengan wanita-wanita shalihah meskipun secara lahiriyah, status sosial clan tingkat materinya tidak setingkat. Yang menjadi patokan adalah substansi kepribadiannya dan bukan penampilan dan kekayaan atau lainnya. “Pergaulan anda dengan orang mulia menjadikan anda termasuk golongan mereka, karenanya janganlah engkau mau bersahabat dengan selain mereka”.

Oleh karena itu datang petunjuk Al Qur’an yang menyerukan hal itu :

“Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang¬-orang yang menyeru Rabbnya dipagi dan disenja hari dengan mengharap keridhoan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”

(Al-Kahfi:28)

Footnote:

1.Al Bid’ah, Dr. Ali bin M. Nashir

Maraji :

• Hilyah tolabul ‘ilmi, Bakr Abdullah Abu Zaed

• Mukhtasor Minhajul Qasidin, Ibnu Qudamah

• Bid’ah dhowabituha wa atsaruhas Sayyisil Ummah,

Dr. Ali Muhammad Nashir AlFaqih

• Sahsiyah Mar’ah, Dr M.Ali Al Hasyimi

Dikutip dari Buletin Dakwah Al-Atsari, Cileungsi Edisi X Sha’ban 1419

Baca selanjutnya...

04 December 2010

Pelanggaran Seputar Pernikahan

Pelanggaran Seputar Pernikahan
Oleh: Ust. Yazid bin abdul Qadir Jawas
Diringkas ulang oleh: Ummu tibyan

Pernikahan adalah perkara yang luhur baik menurut hokum sosial kemasyarakatan apalagi menurut syariat islam yang agung. Seorang yang melanggar aturan pernikahan berarti telah menjatuhkan martabat sosialnya ke lembah yang paling hina.
Disisi lain islam menjadikan pernikahan adalah sebuah ritual peribadatan yang sangat agung. Ia adalah wujud penghambaan seorang laki-laki dan seorang perempuan kepada Robbul Alamin. Sebab Alloh telah memerintahkannya, sebagaimana Rasulullahpun banyak menganjurkan umatnya untuk melangsungkan pernikahan.Sehingga siapa saja yang telah melanggar aturan pernikahan menurut islam, sungguh ia telah melanggar aturan Alloh Dzat Yang Maha Agung.

Mungkin sebagian masyarakat tidak terlalu perduli dengan masalah ini, apalagi bila bentuk pelanggaran ini ternyata diterima oleh umumnya masyarakat. Namun tidak semua yang diterima masyarakat itu bisa diterima pula oleh Alloh Dzat Yang telah mensyariatkan pernikahan. Maka perlu ada kewaspadaan, jangan sampai pernikahan tercemari kemuliaannya dengan pelanggaran, sehingga pernikahan benar-benar akan membuahkan keberkahan. Berikut adalah pembahasan seputar pelanggaran dalam pernikahan:
1. Pacaran
Sebelum melangsungkan pernikahan, sebagian besar orang biasanya”berpacaran” terlebih dahulu. Hal ini biasanya dianggap sebagai masa perkenalan dan penjajakan. Dengan adanya anggapan seprti ini, maka akan melahirkan consensus di masyarakat bahwa masa pacaran adalah hal yang lumrah dan wajar, bahkan merupakan kebutuhan bagi orang-orang yang hendak memasuki jenjang pernikahan. Anggapan seperti ini adalah anggapan yang salah dan keliru. Dalam berpacaran sudah pasti tidak bisa dihindarkan dari berdua-duaan antara dua insan yang berlainan jenis, terjadi saling memandang, saling menyentuh. Perbuatan ini sudah jelas hukumnya haram, Rasulullah bersabda:” jangan sekali-kali seorang laki-laki bersendirian dengan seorang wanita, kecuali siwanita itu bersama mahromnya”(HR Akhmad, Bukhori dan Muslim)
Jadi dalam islam tidak ada pacaran dan berpacaran hukumnya haram.Contoh lain yang merupakan pelanggaran yaitu sangkaan sebagian orang yaitu kalau sudah tunangan maka laki-laki dan wanita boleh jalan berdua, bergndengan tangan bahkan ada yang sampai bercumbu layaknya suami istri yang sah. Anngapan ini adalah salah dan perbuatan ini adalah dosa dan akan membawa kepada perzinaan yang merupakan perbuatan dosa besar.
2. Tukar cincin (tunangan)
Dalam peminangan biasanya ada tukar cincin sebagai tanda ikatan. Hal ini juga bukan dari ajaran islam. Rasulullah melarang laki-laki memakai cincin yang terbuat dari emas.Dari Abu Musa adalah Asy’ari bahwa nabi bersabda:” Emas dan sutra dihalalkan bagi wanita dari umatku dan diharamkan atas laki-lakinya.”(HR: Akhmad, Tirmidzi dan Nasa’i)
Cincin pertunagan adalah tradisi orang nasrani, dimana mereka biasa memberikan cincin kepada calon pengantin sebelum dilangsungkannya pernikahan. Syeikh Ibnu Baz berkata:” kami tidak mengetahui dasar amalan ini dalam syariat dan yang paling utama adalah meninggalkan hal tersebut, baik cincin itu terbuat dari emas, perak, atau sejenisnya”.(fatawa al-islamiyah)
3. Menuntut Mahar yang tinggi
Menurut islam sebaik-baik mahar adalah yang paling murah dan mudah, tidak mempersulit atau mahal. Memang mahar itu hak wanita, tetapi islam menyarankan agar mempermudah dan melarang menuntut mahar yang tinggi. Adapun cerita teguran seorang wanita terhadap Umar Bin Khotob yang membatasi mahar wanita adalah cerita yang salah karena riwayat itu sangat lemah.( lihat irwaul gholil dan al-insyiroh fi adabin nikah).
4. Mengikuti Upacara Adat
Ajaran dan peraturan islam harus lebih tinggi dari segalanya. Setiap acara, upacara, dan adapt-istiadat yang bertentangan dengan islam maka wajib untuk ditinggalkan. Sebagian umat islam dalam acara pernikahan selalu meninggikan dan menyanjung adapt-istiadat setempat, sehingga sunnsh nabi yang benar dan shohih telah mereka matikan dan padamkan. Padahal sunnah rasul merupakan cahaya dalam agama ini. Diantara contoh upacara adapt yang jelas syirik, seperti: menginjak telur,pasang sesaji,pasang janur, dan lainnya dengan tujuan untuk mengusir jin dan menganggap supaya berkah.
Adapula yang mengharuskan memakai pakaian adapt yang membuat mempelai wanita dan para pendampingnya memamerkan aurat( rambut, bahu dan anggota tubuh lainnya). Perbuatan ini adalah maksiat. Ingat setiap wanita yang sudah baligh maka seluruh tubuhnya adalah aurat kecuali muka dan kedua telapak tangan.
Ada juga ritual sungkeman yaitu kedua mempelai berlutut menghadap kepada orang tua mereka untuk meminta maaf dan memohon restu yang biasanya dilakukan seusai akad nikah. Padahal, perbuatan ini mengajarkan orang untuk tunduk dan sujud kepada selain Alloh, bahkan dapat menjerumuskan seseorang kepada kesyirikan.
Nabi mengajarkan hormat kepada orang tua, akan tetapi bukan dengan cara rukuk, berlutut, atau bersujid dan nabi tidak pernah mengajarkan untuk melakukan hal-hal tersebut kepada anak-anak dan sahabatnya. Yang disyariatkan adalah berjabat tangan bila berjumpa dan berpelukan ketika pulang dari safar, justru hal ini banyak ditinggalkan oleh kaum muslimin.Alloh berfirman:” Apakah hokum jahiliyah yang mereka kehendaki? (hokum) siapakah yang lebih baik daripada (hokum) Alloh bagi orang-orang yang menyakini (agamanya)?”(QS: Al-Maidah: 50).
Orang-orang yang mencari konsep peraturan ajaran dan tata cara selain islam maka semuanya tidak akan diterima oleh Alloh dan kelak diakhirat mereka akan menjadi orang-orang yang merugi, sebagaimana firman Alloh:”Dan barangsiapa yang mencari agama selain islam. Dia tidak akan diterima dan diakhirat dia termasuk orang yang rugi”.(QS; Ali imron:85)
5. Mencukur jenggot bagi laki-laki
Sebagian laki-laki yang akan menikah mencukur jenggotnya agar telihat rapi saat upacara pernikahannya. Dalam islam, laki-laki tidak boleh mencukur jenggotnya dan hukumnya haram, karena Rasulullah memerintahkan laki-laki untuk memelihara dan memanjangkan jenggotnya. Rasululah bersabda:”Rapikanlah kumis, biarkanlah jenggot, bedakanlah diri kalian dari orang majusi”. ( HR: Muslim dan abu awanah dari Abu Hurairoh)
Syeikh Albani berkata:”mencukur jenggot bagi kaum laki-laki adalah perilaku ytg buruk karena mereka seringkali mneiru-niru orang eropa yang selalu mencukur jenggotnya. Mereka merasa malu jika memelihara jenggot, apalgi ketika menemui penganten wanita tanpa bercukur. Dalam hal ini mereka telah melakukan hal-hal yang dilarang, diantaranya:
 Mengubah ciptaan Alloh, alloh berfirman yang artinya:” Setan dilaknat Alloh dan ia berkata “ aku pasti akan mengambil bagian tertentu dari hamba-hambaMu, dan pasti aku akan sesatkan mereka dan akan kubangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan aku suruh mereka memotong telinga-telinga binatang ternak(lalu mereka benar-bener akan memotongnya) dan akan aku suruh mereka mengubah ciptaan Alloh(lalu mereka benar-benar merubahnya)”,barangsiapa menjadikan setan pelindung selain Alloh, maka sungguh ia menderita kerugin yang nyata”.( QS: An-NIsa:118-119)
 Melanggar perintah Rasululloh, beliau bersabda: “Cukurlah kumis dan peliharalah jenggot”(HR. bukhori Muslim)
 Menyerupai orang kafir, Rasululloh bersabda:”Rapikanlah kumis, biarkanlah jenggot, bedakanlah diri kalian dari orang majusi”.(HR: Muslim dan Abu Awanah)
 Menyerupai kaum wanita, rasululloh bersabda:” Rasululloh melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan melaknat wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR: tirmidzi bukhori dan lainnya)
6. Mencukur alis mata, mentato dan menyambung rambut
Demikian sebagian wanita mencukur bulu alis matanya menjelang pernikahan dengan alas an supaya tampil lebih cantik, perbuatan ini adalah dosa dan dilarang dalam syariat islam, rasululloh bersabda:” Alloh melaknat wanita yang mentato, wanita yang minta ditato, wanita yang mengerik alis dan yang minta dikerik alisnya dan wanita yang mengikir giginya agar nampak cantik, mereka telah mengubah ciptaan Alloh”(HR:Bukhori Muslim)
Dalam riwayat lain Rasululloh melaknat wanita yang menyambung rabut dan yang meminta disambung rambutnya, Dari umar:” Bahwasanya Rasululloh melaknat wanita yang menyambung rambutnya serta wanita yang minta disambung rambutnya dan wanita yang mebuat tato dan yang meminta ditato.” ”(HR:Bukhori Muslim)
7. Kepercayaan terhadap hari baik
Menganggap hari tertentu baik dan hari lainnya buruk adalah tathoyur yang sangat dilarang dalam islam dan islam tidak mengenal adanya hari sial, rasululloh bersabda:”Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau dukun lalu mempercayai apa yang diucapkannya maka sungguh ia telah kafir dengan wahyu yang diturunkan kepada nabi Muhammad.”(HR: hakim baehaki dan Akhmad)
Rasululloh bersabda:” thiyaroh adalah syirik, thiyaroh adalah syirik dan tidak ada seorangpun diantara kita kecuali( tlah terjadi dalam hatinya sesuatu dari hal ini), hanya saja Alloh menghilangkannya dengan tawakal kepadaNya.”(HR:Abu Daud, Bukhori)
Thiyaroh adalah menganggap sial dengan sesuatu yang dilihat didebgar atau diketahui.
8.Mengucapkan ucapan selamat ala ucapan kaum jahiliyah
Kaum jahiliyah selalu menggunakan kata-kata:” Semoga rukun dan banyak anak” ketika mengucapkan selamat kepada kedua mempelai dan ucapan seperti itu telah dilarang dalam islam.
Dari Al- Hasan, bahwa Aqil bin Abi Tholib menikah dengan seorang wanita dari jasyam. Para tamu mengucapkan selamat dengan ucapan jahiliyah :” Semoga rukun dan banyak anak”maka Aqil bin abi Tholib melarang mereka seraya berkata:” Janganlah kalian mengucapkan demikian” para tamu bertanya:” lalu apa yang harus kami ucapkan wahai Abu Zaid?” Aqil menjawab ucapkanlah:( Mudah-mudahan alloh memberi kalian keberkahan dan melimpahkan atas kalian keberkahan)
Demikian ucapan selamat yang diajarkan Rasululloh, doa yang sering diucapkan Rasululloh kepada mempelai adalah:” Semoga alloh memberikan berkah kepadamu dan kepada pernikahanmu serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.”
9. Adanya ikhtilath
Ikhthilat adalah berbaurnya laki-laki dan wanita sehingga terjadi saling memandang, menyentuh dan jabat tangan, padahal laki-laki dan wanita diperintahkan untuk menundukkan pandangan berdasar firman Alloh yang artinya:” katakanlah kepada laki-laki yang beriman hendaklah mereka menahan pandangannya dan emelihara kemaluannya yang demikian itu ialah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Alloh maha mengetahui apa yang mereka perbuat”( QS: An-Nur:30)
Begitupula menyentuh dan berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahrom adalah haram sebagaimana Rasululloh bersabda:”Sungguh ditusuknya kepala salah seorang diantara kalian dengan jarum dari besi lebih baik baginya daripada dia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”(HR:Thobroni)
Menurut syariat islam mempelai laki-laki dan wanita harus dipisah sehingga apa yang disebutkan diatas dapat dihindari. Syeikh Ibnu Baz berkata:” diantara perkara mungkar yang diadakan manusia pada zaman ini adalah meletakkan pelaminan pengantin ditengah-tengah kaum wanita dann menyandingkan suaminya disisinya, dengan dihadiri wanita-wanita yang berdandan dan bersolek…”(fatwa al islamiyah:3/188)
10. Musik
Salah satu bentuk kemungkaran dalam pernikahan adalah adanya musik, baik berupa alat musik, lagu maupun panggung hiburan. Parahnya lagi ada yang sengaja mendatangkan biduan untuk menghibur para undangan. Yang dianjurkan dalam pernikahan adalah menabuh rebana, hal ini memiliki dua faedah yaitu: untuk publikasi pernikahan dan menghibur kedua mempelai. Hal ini berdasarkan hadis dari Muhamad Bin Khatib bahwa nabi bersabda:” Pembeda antara yang halal dengan yang haram pada pesat pernikahan adalah tabuhan rebana dan rebana.”(HR:Nasai,Tirmidzi, Ibnu Majah, akhmad dan hakim)
11. Meninggalkan Sholat Wajib
Termasuk kemungkaran dalam pernikahan adlah kedua mempelai beserta keluarga meninggalkan sholat wajib. Sangat disayangkan sebagian besar kau muslimin sengaja eninggalkan sholat wajib ketika mereka menyelenggarakan resepsi pernikahan. Padahal bagaimanapun keadaannya seorang muslim tetap wajib mengerjakan sholat lima waktu. Banyaknya tamu, make up yang menempel diwajah, atau gaun pengantin yang dikenakan seharusnya tidak menghalangi dia untuk melakukan sholat.
12. Lukisan, gambar, dan patung
Pelanggaran lain yang sering dilakukan ialah adanya lukisan, gambar makhluk bernyawa dan patung termasuk juga fotografi dengan tujuan untuk kenangan pernikahan. Nabi bersabda:” Malaikat tidak akan emasuki rumah yang didalamnya terdapat anjing dan gambar.”(HR:Bukhori, Muslim, nasai dari abu tholhah)
“ Malaikat tidak akan memasuki rumah yang didalamnya terdapat patung-patung dan gambar-gambar.”(HR:Muslim)
13. Pelanggaran lainnya
 Membaca syahadat bagi seorang muslim ketika ijab qabul pernikahan
 Membaca shighot ta’liq yaitu ta’liq talak(menggantungkan talak) oleh pengantin pria seusai akad nikah
 Membaca surat al fatihah saat akad nikah
 Ratiban
 Kawin lari
Semua perbuatan diatas tidak ada contoh dari nabi dan tidak pernah dilakukan oleh para sahabat.

Itulah pelanggaran-pelanggaran yang terjadi seputar pernikahan. Marilah kita berupaya menyelenggarakan pernikahan yang islami dan membina rumah tangga yang islami serta berusaha meninggalkan aturan, tata cara, upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan islam. Ajaran islam adalah satu-satunya ajaran yang benar dan diridhoi Alloh sebagaimana firmanNya “ sesungguhnya agama di sisi Alloh hanyalah islam…”(QS:Ali Iran:19)
Mudah-mudahan Alloh mengampuni dosa-dosa kita dan semoga Alloh memberkahi pernikahan kita.

Baca selanjutnya...

01 December 2010

Bekal dan Kiat Merawat Cinta

Bekal dan kiat merawat Cinta
Oleh ust. Abu Zahroh al-Anwar
Diringkas ulang oleh : Ummu tibyan

Setelah Allah memberikan nikmat pernikahan yang sah, dan disaat biduk rumah tangga mulai berlabuh, tentu kita tidak ingin cinta dan kasih sayang yang telah bersemi didalam hati terhadap pasangan kita menjadi layu, apalagi sampai mongering dan usang.


Bekal pasutri memelihara cinta

Bila pasutri mendapati cinta dan kasih saying antara keduanya mulai layu, maka mereka perlu sarana untuk menjaganya agar tidak berlanjut dan berlarut-larut yang apabila dibiarkan tentu saja ia akan menjadi kering. Dengan berbekal sarana yang syar’I insya Allah pasutri akan bisa menjadikan cintanya bersemi kembali, bekal tersebut adalah:
v     Ilmu yang bermanfaat
Pasutri yang mengharapkan kehidupan rumah tangganya senantiasa dipeuhi sakinah, mawaddah warohmah, harus menghidupkan ruh ilmu yang bermanfaat pada diri mereka dan saling berlomba untuk mengamalkannya. Salah satu upaya untuk mendorong hal tersebut adalah dengan saling memberikan dorongan untuk belajar ilmu al-Qur’an dan as-sunnah yang shoheh sesuai dengan pemahaman yang lurus dan benar, dan saling menasehati dengan kebenaran dan kesabaran.
v     Iman dan amal sholeh
Kedua hal ini merupakan bekal asasi yang dapat melestarikan cinta dan kasih saying, termasuk kebahagiaan dan ketentraman hidup, Allah berfirman:
Barang siapa yang mengerjakan amal sholeh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman,maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari pa yang mereka kerjakan”(QS: An-Nahl:97)
Sebab, seorang yang beriman kepada Alloh yang membuahkan amal sholeh akan tertata hati, akhlak, urusan dunia dan akheratnya. Dia akan memiliki pijakan hidup yang kokoh sehingga bisa menerima segala hal yang dating kepadanya, yang baik maupun yang jahat, berupa sebab-sebab tumbuhnya cinta, kasih saying dan kebahagiaan maupun sebab-sebab kegoncangan jiwa dan kesedihan.
v     Berbuat baik kepada sesama
Orang yang paling dekat dengan kita saat ini adalah ialah pasangan kita,keluarga, termasuk anak-anak dan orang tua kita. Bila kita bisa berbuat baik kepada mereka, terutama pasangan kita maka betapapun gelombang yang dating menimpa kita, InsyaAlloh  ia tetap akan berbuah kebaikan.
Alloh menyatakan dalam firmannya (Qs: An-nisa:114) bahwa setiap kebaikan akan mendatangkan kebaikan dan menolak kejelekan. Dan seorang muslim yang melakukan kebaikan demi mengharapkan pahala disisi Alloh, maka Alloh akan memberikan apa yang dia minta dan akan menghilangkan kesedihan dan kekeruhan hatinya serta hal-hal lain yang bisa mengganggu kebahagiaannya.
v     Dzikrulloh
Dzikir memiliki pengaruh yang luar biasa bagi ketenangan dan ketentraman hidup. Bahkan dzikir dapat menghilangkan kesedihan dan duka cita.Alloh berfirman :
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Alloh. Ingatlah, hanya dengan mengingat Alloh hati menjadi tentram.”(QS: Ar-Ra’du:28)

Bagaimana menumbuhkan cinta?

Menumbuhkan cinta yang telah layu memrlukan kiat tertentu dan sarana tertentu pula yang harus dilakukan dan diupayakan oleh masing-masing pasutri, diantaranya:
1.      Perhatian serius terhadap aktifitas sekarang
Artinya, masing-masing pasutri hendaknya tidak menyibukkan dirinya dan pikirannya dengan masa yang belum tentu terjadi. Begitupula harus membuang kedukaan atas hal-hal yang telah berlalu yang tidak mungkin diambil kembali dan tidak mungkin diperbaiki. Adapun masa lalu, ia merupakan pengalaman yang patut dijadikan sebuah pelajaran untuk perbaikan masa sekarang. Berduka dari sesuatu yang telah lalu, akan menyebabkan kegoncangan dan pesimis dalam menghadapai masa depan. Jangan sampai masa lalu justru melumpuhkan semangat untuk melakukan sesuatu yang berharga untuk hari ini. Namun yang seharusnya dilakukan ialah masing-masing harus menjadi pemilik hari ini dengan mengumpulkan semangat serta upaya optimal untuk beraktifitas yang bermanfaat disaat sekarang. Dengan demikian akan sempurnalah usaha yang dilakukan dan masing-msaing akan terhibur dari duka dan kesedihan, dan diharapkan akan menumbuhkan kembali benih cinta dan kasih saying.
2.      Bahu membahu diatas ketaatan
Hendaklah setiap pasutri meluangkan waktu khusus untuk melaksanakan ketaatan secara bersama-sama, seperti: tadarus bersama dengan saling menyimak bacaan ,saling membangunkan untuk melaksanakan sholat malam, murajaah hafalan dan lainnya.Suasana kebersamaan ini kan menggugah hati masing-msaing dan akan menumbuhkan kembali cinta dan kasih saying diantara mereka berdua.Rasulullah bersabda:” Semoga Alloh merahmati seorang laki-laki yang bangun malam, lalu membangunkan keluarganya. Jika keluarganya enggan, ia mengambil air kemudian menyiramkan kewajahnya. Semoga Alloh merahmati wanita yang bangun malam, lalu membangunkan keluarganya. Jika keluarganya enggan, ia mengambil air dan menyiramkan kewajahnya.”(HR: Abu Dawud:1113)
3.      Berkilah yang barokah
Dalam kehidupan rumah tangga sangat dibutuhkan toleransi, kelembutan dan kehalusan perangai. Atau bila memang diperlukan dalam usaha menumbuhkan cinta dan kasih saying, berkilah dan basa basipun bisa menjadi sesuatu yang patut dilakukan. Bahkan meski terkadang pasutri terpaksa harus berdustapun tidak mengapa karena syariat islam memberikan keringanan dalam masalah ini.
Syariat islam memberikan izin kepada pasutri untuk berdusta demi menjaga keutuhan cinta kasih dalam rumah tangga mereka. Rasululloh telah menjelaskan bahwa syariat islam telah membolehkan seseorang berdusta dalam tiga keadaan, yaitu: ketika ingin mendamaikan (dua orang atau kelompok yang sedang bertikai): ketika dalam suasana perang: berdustanya seorang suami pada istrinya dan seorang istri pada suaminya( untuk menjaga keutuhan rumah tangga mereka)(HR: Akhmad:26015)
4.      Saling menghargai dan menghormati
Sebagian pasutri terkadang merendahkan akal dan cara berfikir pasangannya, entah karena sebab atau tanpa sebab yang bisa dipahami bersama. Suami maupun istri yang seperti ini hanya akan menyebabkan kelelahan, bukan kebahagiaan dihati pasangannya. Dan ia tetntu sulit menjadi pasanagan yang dihormati oleh pasangannya, karena penghormatan merupakan sesuatu yang timbal balik, selama seseorang tidak menghormati orang lain, maka orang lainpun tidak akan menghormatinya.
Akal adalah sesuatau yang terhormat, baik yang dimiliki suami ataupun istri, bahkan sebagian wanita terkadang lebih cerdas akalnya daripada laki-laki. Seorang suami hendaknya menghormati dan menghargai akal pikiran istrinya dengan mengajaknya berfikir bersama dalam mengurus rumah tangga, juga memikirikan dan membuat rancangan masa depan keluarga.
5.      Selalu berprasangka baik
Keraguan tidak akan melahirkan kecuali keraguan dan buruk sangka, kepercayaaan tidak akan melahirkan kecuali kepercayaan pula.
Apabila pasutri selalu saling curiga dan berburuk sangka  maka hilanglah sebagian pondasi kebahagiaan rumah tangganya. Boleh saja berharap kebahagiaan, tetapi bila salah satu pondasinya telah hilang maka tentu sangat sulit didapatkan, sehingga tidaklah berlebihan jika berburuk sangka merupakan factor utama kehancuran sebuah rumah tangga.Rasulollah menegaskan:”Jauhilah persangkaan(yang jelek) sebab sesungguhnya persangkaan (yang jelek)adalah sedusta-dusta pembicaraan”(HR; Bukhori dan muslim:4646)
6.      Tetap menjaga etika ketika berjauhan
Kondisi ekonomi yang sulit terkadang memaksa pasutri untuk saling berjauhan dalam beberapa waktu, dimana istri tetap tinggal dirumah dan suami keluar untuk mencari mai’syah. Ketika hal ini terjadi maka mereka harus senantiasa menjaga etika agar keadaan seperti inipun tetap menguntungkan.
Bagi suami: hendaknya ia pergi tidak dalam waktu yang lama yang melebihi kebutuhan,karena hal ini akan menyakiti istri. Hendaknya ia senantiasa berhubungan dengan istrinya baik melalui surat, telepon, agar ia mengetahui kebutuhan istri dan anak-anaknya.
Sementara istri: hendaklah berlapang dada menjadi seorang istri bagi suaminya meski harus ditinggal sendirian untuk beberapa waktu lamanya. Ia juga harus bisa mengkondisikan suasana rumah tangganya termasuk mengurus anak-anak suaminya. Ia harus menyadari bahwa keluarnya suami meninggalkannya bersama anak-anak bukan untuk bersenang-senang melainkan untuk keperluan bersama, bahkan keluarnya suami adalah untuk memenuhi sebagian haknya dan hak anak-anaknya.
7.      Menjaga dan mengkondisikan kccembuaruan
Cemburu merupakan indikasi adanya cinta diantara pasutri, sehingga cemburu yang sewajarnya adalah tidak tercela, bahkan perlu juga dipuji.Kecemburuan wanita biasanya didasarka pada perasaan, bila wanita sedang cemburu, yang mengendalikan dirinya hanyalah perasaanya sehingga seorang istri hendaknya bisa mngendalikan perasaannya agar kecemburuannya tidak membabi buta.
Bagi suami juga harus pandai menyikapi kecemburuan istrinya, sebab suami yang bijak akan sangat memperhatikan kondisi diri dan istrinya. Bila istri beralasan suami menghargai alasannya, dan bila suami beralasanpun istri harus pandai mengendalikan perasaannya. Harus saling memahami, menahan diri dari sikap ceroboh dengan tidak berucap dan berperilaku kasar. Selalu ingat pentingnya keakraban, berbicara dari hati kehati guna mendinginkan suasana.
8.      Lupa adalah nikmat yang berharga
Pasutri harus bisa menerima alas an lupa dri pasangannya, sebab lupa merupakan nikmat yang agung dari Alloh yang dianugrahkan kepada manusia, sekiranya Alloh tidak memberikan nikmat berupa sifat lupa, sungguh kehidupan kita kan senantiasa dipenuhi dengan kesengsaraanyg kita tidak mampu memikulnya.
Ingatlah, bahwa dengan sifat lupa inilah seseorang dapat melupakan peristiwa yang memilukan dirinya dan musibah besar yang menimpanya.
9.      Rapi menyimpan aib
Hendaklah setiap pasutri bersungguh-sungguh untuk dapat menyimpan aib atau kekurangan pasangannya. Janganlah mereka menyebutkan aib pasangan meski kepada keluarganya apalagi kepada orang lain. SEbab disebarkannya aib merupakan  penghalang tumbuhnya cinta dan kasih sayang, sebaliknya rapi menutup aib akan menumbuhkan saling percaya yag akan membuahkan cinta.

Dan akhirnya…
Hendaknya kita renungkan bahwa sebagai manusia, baik sebagi suami maupun istri tidak mungkin bersih dari kekurangan dan kelemahan.Terkadang suami atau istri terbiasa dengan sifat tertentu, hal ini mengharuskan pasutri berlapang dada dengan tetap berdoa agar Alloh yang akan mengubahnya. Sebab mengubah sifat dan tabiat bukanlah perkara yang mudah, bahkan disuatu keadaan ia merupakan suatu yang mustahil diubah.

Namun, bila ada perilaku yang keliru yang dianggap sebagai dosa, seorang muslim dituntut untuk menasehati saudaranya kepada kebaikan dan melarangnya dari berbuat maksiat. Janganlah seorang suami bosan untuk memberi nasehat kepada istrinya didalam melaksanakan syariat Alloh dan ketaatan kepadaNya begitu juga sebaliknya. Semoga Alloh memberikan taufiqnya kepada kita semua. Amin.




Baca selanjutnya...

Sepuluh Wasiat untuk Istri yang Mendambakan “Keluarga Bahagia tanpa Problema”

Penulis: Mazin bin Abdul Karim Al-Farih

Berikut ini sepuluh wasiat untuk wanita, untuk istri, untuk ibu rumah tangga dan ibunya anak-anak yang ingin menjadikan rumahnya sebagai pondok yang tenang dan tempat nan aman yang dipenuhi cinta dan kasih sayang, ketenangan dan kelembutan.

Wahai wanita mukminah!

Sepuluh wasiat ini aku persembahkan untukmu, yang dengannya engkau membuat ridla Tuhanmu, engau dapat membahagiakan suamimu dan engkau dapat menjaga tahtamu.

Wasiat Pertama: Takwa kepada Allah dan menjauhi maksiat

Bila engkau ingin kesengsaraan bersarang di rumahmu dan bertunas, maka bermaksiatlah kepada Allah!!

Sesungguhnya kemaksiatan menghancurkan negeri dan menggoncangkan kerajaan. Maka janganlah engkau goncangkan rumahmu dengan berbuat maksiat kepada Allah dan jangan engkau seperti Fulanah yang telah bermaksiat kepada Allah… Maka ia berkata dengan menyesal penuh tangis setelah dicerai oleh sang suami: “Ketaatan menyatukan kami dan maksiat menceraikan kami…”

Wahai hamba Allah… Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu dan menjaga untukmu suamimu dan rumahmu. Sesungguhnya ketaatan akan mengumpulkan hati dan mempersatukannya, sedangkan kemaksiatan akan mengoyak hati dan mencerai-beraikan keutuhannya.

Karena itulah, salah seorang wanita shalihah jika mendapatkan sikap keras dan berpaling dari suaminya, ia berkata “Aku mohon ampun kepada Allah… itu terjadi karena perbuatan tanganku (kesalahanku)…”

Maka hati-hatilah wahai saudariku muslimah dari berbuat maksiat, khususnya:

- Meninggalkan shalat atau mengakhirkannya atau menunaikannya dengan cara yang tidak benar. Duduk di majlis ghibah dan namimah, berbuat riya’ dan sum’ah.

- Menjelekkan dan mengejek orang lain. Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain(karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan janganlah wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan).” (Al Hujuraat: 11)

- Keluar menuju pasar tanpa kepentingan yang sangat mendesak dan tanpa didampingi mahram. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَحَبُّ الْبِلادِ إِلَى اللهِ مَسَاجِدُهُمْ وَأَبْغَضَ الْبِلادِ إِلَى اللهِ أَسْوَاقُهُمْ

“Negeri yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya dan negeri yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasarnya.”1

- Mendidik anak dengan pendidikan barat atau menyerahkan pendidikan anak kepada para pembantu dan pendidik-pendidik yang kafir.

- Meniru wanita-wanita kafir. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.”2

- Menyaksikan film-film porno dan mendengarkan nyanyian.

- Membaca majalah-majalah lawakan/humor.

- Membiarkan sopir dan pembantu masuk ke dalam rumah tanpa kepentingan mendesak.

- Membiarkan suami dalam kemaksiatannya.3

- Bersahabat dengan wanita-wantia fajir dan fasik. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ

“Seseorang itu menurut agama temannya.”4

- Tabarruj (pamer kecantikan) dan sufur (membuka wajah)

Wasiat kedua: Berupaya mengenal dan memahami suami

Hendaknya seorang istri berupaya memahami suaminya. Ia tahu apa yang disukai suami maka ia berusaha memenuhinya. Dan ia tahu apa yang dibenci suami maka ia berupaya untuk menjauhinya, dengan catatan selama tidak dalam perkara maksiat kepada Allah, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al Khaliq (Allah Ta`ala). Berikut ini dengarkanlah kisah seorang istri yang bijaksana yang berupaya memahami suaminya.

Berkata sang suami kepada temannya: “Selama dua puluh tahun hidup bersama belum pernah aku melihat dari istriku perkara yang dapat membuatku marah.”

Maka berkata temannya dengan heran: “Bagaimana hal itu bisa terjadi.”

Berkata sang suami: “Pada malam pertama aku masuk menemui istriku, aku mendekat padanya dan aku hendak menggapainya dengan tanganku, maka ia berkata: ‘Jangan tergesa-gesa wahai Abu Umayyah.’ Lalu ia berkata: ‘Segala puji bagi Allah dan shalawat atas Rasulullah… Aku adalah wanita asing, aku tidak tahu tentang akhlakmu, maka terangkanlah kepadaku apa yang engkau sukai niscaya aku akan melakukannya dan apa yang engkau tidak sukai niscaya aku akan meninggalkannya.’ Kemudian ia berkata: ‘Aku ucapkan perkataaan ini dan aku mohon ampun kepada Allah untuk diriku dan dirimu.’”

Berkata sang suami kepada temannya: “Demi Allah, ia mengharuskan aku untuk berkhutbah pada kesempatan tersebut. Maka aku katakan: ‘Segala puji bagi Allah dan aku mengucapkan shalawat dan salam atas Nabi dan keluarganya. Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat yang bila engkau tetap berpegang padanya, maka itu adalah kebahagiaan untukmu dan jika engkau tinggalkan (tidak melaksanakannya) jadilah itu sebagai bukti untuk menyalahkanmu. Aku menyukai ini dan itu, dan aku benci ini dan itu. Apa yang engkau lihat dari kebaikan maka sebarkanlah dan apa yang engkau lihat dari kejelekkan tutupilah.’ Istri berkata: ‘Apakah engkau suka bila aku mengunjungi keluargaku?’ Aku menjawab: ‘Aku tidak suka kerabat istriku bosan terhadapku’ (yakni si suami tidak menginginkan istrinya sering berkunjung). Ia berkata lagi: ‘Siapa di antara tetanggamu yang engkau suka untuk masuk ke rumahmu maka aku akan izinkan ia masuk? Dan siapa yang engkau tidak sukai maka akupun tidak menyukainya?’ Aku katakan: ‘Bani Fulan adalah kaum yang shaleh dan Bani Fulan adalah kaum yang jelek.’”

Berkata sang suami kepada temannya: “Lalu aku melewati malam yang paling indah bersamanya. Dan aku hidup bersamanya selama setahun dalam keadaan tidak pernah aku melihat kecuali apa yang aku sukai. Suatu ketika di permulaan tahun, tatkala aku pulang dari tempat kerjaku, aku dapatkan ibu mertuaku ada di rumahku. Lalu ibu mertuaku berkata kepadaku: ‘Bagaimana pendapatmu tentang istrimu?’”

Aku jawab: “Ia sebaik-baik istri.”

Ibu mertuaku berkata: “Wahai Abu Umayyah.. Demi Allah, tidak ada yang dimiliki para suami di rumah-rumah mereka yang lebih jelek daripada istri penentang (lancang). Maka didiklah dan perbaikilah akhlaknya sesuai dengan kehendakmu.”

Berkata sang suami: “Maka ia tinggal bersamaku selama dua puluh tahun, belum pernah aku mengingkari perbuatannya sedikitpun kecuali sekali, itupun karena aku berbuat dhalim padanya.”5

Alangkah bahagia kehidupannya…! Demi Allah, aku tidak tahu apakah kekagumanku tertuju pada istri tersebut dan kecerdasan yang dimilikinya? Ataukah tertuju pada sang ibu dan pendidikan yang diberikan untuk putrinya? Ataukah terhadap sang suami dan hikmah yang dimilikinya? Itu adalah keutamaan Allah yang diberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki.

Wasiat ketiga: Ketaatan yang nyata kepada suami dan bergaul dengan baik

Sesungguhnya hak suami atas istrinya itu besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَوْ كُنْتُ آمِرَا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.”6

Hak suami yang pertama adalah ditaati dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah dan baik dalam bergaul dengannya serta tidak mendurhakainya. Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِثْنَانِ لا تُجَاوِزُ صَلاتُهُمَا رُؤُوْسُهُمَا: عَبْدٌ آبَق مِنْ مَوَالِيْهِ حَتَّى يَرْجِعَ وَامْرَأَةٌ عَصَتْ زَوْجَهَا حَتَّى تَرْجِعَ

“Dua golongan yang shalatnya tidak akan melewati kepalanya, yaitu budak yang lari dari tuannya hingga ia kembali dan istri yang durhaka kepada suaminya hingga ia kembali.”7

Karena itulah Aisyah Ummul Mukminin berkata dalam memberi nasehat kepada para wanita: “Wahai sekalian wanita, seandainya kalian mengetahui hak suami-suami kalian atas diri kalian niscaya akan ada seorang wanita di antara kalian yang mengusap debu dari kedua kaki suaminya dengan pipinya.”8

Engkau termasuk sebaik-baik wanita!!

Dengan ketaatanmu kepada suamimu dan baiknya pergaulanmu terhadapnya, engkau akan menjadi sebaik-baik wanita, dengan izin Allah. Pernah ada yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wanita bagaimanakah yang terbaik?” Beliau menjawab:

اَلَّتِى تَسِرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيْعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلا تُخَالِفُهُ فِيْ نَفْسِهَا وَلا مَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

“Yang menyenangkan suami ketika dipandang, taat kepada suami jika diperintah dan ia tidak menyalahi pada dirinya dan hartanya dengan yang tidak disukai suaminya.” (Isnadnya hasan)

Ketahuilah, engkau termasuk penduduk surga dengan izin Allah, jika engkau bertakwa kepada Allah dan taat kepada suamimu, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

اَلْمَرْأَةُ إِذَا صَلَّتْ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَأَحْصَنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، فَلْتَدْخُلُ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ

“Bila seorang wanita shalat lima waktu, puasa pada bulan Ramadlan, menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan.”9

Wasiat keempat: Bersikap qana’ah (merasa cukup)

Kami menginginkan wanita muslimah ridla dengan apa yang diberikan (suami) untuknya baik itu sedikit ataupun banyak. Maka janganlah ia menuntut di luar kesanggupan suaminya atau meminta sesuatu yang tidak perlu. Dalam riwayat disebutkan “Wanita yang paling besar barakahnya.” Wahai siapa gerangan wanita itu?! Apakah dia yang menghambur-hamburkan harta menuruti selera syahwatnya dan mengenyangkan keinginannya? Ataukah dia yang biasa mengenakan pakaian termahal walau suaminya harus berhutang kepada teman-temannya untuk membayar harganya?! Sekali-kali tidak… demi Allah, namun (mereka adalah):

أَعْظَمُ النِّسَاءِ بَرَكَةٌ، أَيْسَرُّهُنَّ مُؤْنَةً

“Wanita yang paling besar barakahnya adalah yang paling ringan maharnya.”10

Renungkanlah wahai suadariku muslimah adabnya wanita salaf radliallahu ‘anhunna… Salah seorang dari mereka bila suaminya hendak keluar rumah ia mewasiatkan satu wasiat padanya. Apa wasiatnya? Ia berkata kepada sang suami: “Hati-hatilah engkau wahai suamiku dari penghasilan yang haram, karena kami bisa bersabar dari rasa lapar namun kami tidak bisa sabar dari api neraka…”

Adapun sebagian wanita kita pada hari ini apa yang mereka wasiatkan kepada suaminya jika hendak keluar rumah?! Tak perlu pertanyaan ini dijawab karena aku yakin engkau lebih tahu jawabannya dari pada diriku.

Wasiat kelima: Baik dalam mengatur urusan rumah, seperti mendidik anak-anak dan tidak menyerahkannya pada pembantu, menjaga kebersihan rumah dan menatanya dengan baik dan menyiapkan makan pada waktunya. Termasuk pengaturan yang baik adalah istri membelanjakan harta suaminya pada tempatnya (dengan baik), maka ia tidak berlebih-lebihan dalam perhiasan dan alat-alat kecantikan.

Renungkanlah semoga Allah menjagamu, kisah seorang wanita, istri seorang tukang kayu… Ia bercerita: “Jika suamiku keluar mencari kayu (mengumpulkan kayu dari gunung) aku ikut merasakan kesulitan yang ia temui dalam mencari rezki, dan aku turut merasakan hausnya yang sangat di gunung hingga hampir-hampir tenggorokanku terbakar. Maka aku persiapkan untuknya air yang dingin hingga ia dapat meminumnya jika ia datang. Aku menata dan merapikan barang-barangku (perabot rumah tangga) dan aku persiapkan hidangan makan untuknya. Kemudian aku berdiri menantinya dengan mengenakan pakaianku yang paling bagus. Ketika ia masuk ke dalam rumah, aku menyambutnya sebagaimana pengantin menyambut kekasihnya yang dicintai, dalam keadaan aku pasrahkan diriku padanya… Jika ia ingin beristirahat maka aku membantunya dan jika ia menginginkan diriku aku pun berada di antara kedua tangannya seperti anak perempuan kecil yang dimainkan oleh ayahnya.”

Wasiat keenam: Baik dalam bergaul dengan keluarga suami dan kerabat-kerabatnya, khususnya dengan ibu suami sebagai orang yang paling dekat dengannya. Wajib bagimu untuk menampakkan kecintaan kepadanya, bersikap lembut, menunjukkan rasa hormat, bersabar atas kekeliruannya dan engkau melaksanakan semua perintahnya selama tidak bermaksiat kepada Allah semampumu.

Berapa banyak rumah tangga yang masuk padanya pertikaian dan perselisihan disebabkan buruknya sikap istri terhadap ibu suaminya dan tidak adanya perhatian akan haknya. Ingatlah wahai hamba Allah, sesungguhnya yang bergadang dan memelihara pria yang sekarang menjadi suamimu adalah ibu ini, maka jagalah dia atas kesungguhannya dan hargailah apa yang telah dilakukannya. Semoga Allah menjaga dan memeliharamu. Maka adakah balasan bagi kebaikan selain kebaikan?

Wasiat ketujuh: Menyertai suami dalam perasaannya dan turut merasakan duka cita dan kesedihannya.

Jika engkau ingin hidup dalam hati suamimu maka sertailah dia dalam duka cita dan kesedihannya. Aku ingin mengingatkan engkau dengan seorang wanita yang terus hidup dalam hati suaminya sampaipun ia telah meninggal dunia. Tahun-tahun yang terus berganti tidak dapat mengikis kecintaan sang suami padanya dan panjangnya masa tidak dapat menghapus kenangan bersamanya di hati suami. Bahkan ia terus mengenangnya dan bertutur tentang andilnya dalam ujian, kesulitan dan musibah yang dihadapi. Sang suami terus mencintainya dengan kecintaan yang mendatangkan rasa cemburu dari istri yang lain, yang dinikahi sepeninggalnya. Suatu hari istri yang lain itu (yakni Aisyah radliallahu ‘anha) berkata:

مَا غِرْتُ عَلَى امْرَأَةٍ لِلنَّبِيِّ؟ مَا غِرْتُ عَلَى خَدِيْجَةَ هَلَكَتْ قَبْلَ أَنْ يَتَزَوَّجَنِي، لَمَّا كُنْتُ أَسْمَعُهُ يَذْكُرُهَا

“Aku tidak pernah cemburu kepada seorang pun dari istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti cemburuku pada Khadijah, padahal ia meninggal sebelum beliau menikahiku, mana kala aku mendengar beliau selalu menyebutnya.”11

Dalam riwayat lain:

مَا غِرْتُ عَلَى أَحَدٍ مِنْ نِسَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا غِرْتُ عَلَى خَدِيْجَةَ وَمَا رَأَيْتُهَا وَلَكِنْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ ذِكْرَهَا

“Aku tidak pernah cemburu kepada seorangpun dari istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti cemburuku pada Khadijah, padahal aku tidak pernah melihatnya, akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam banyak menyebutnya.”12

Suatu kali Aisyah berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah beliau menyebut Khadijah:

كَأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ فِي الدُّنْيَا امْرَأَةٌ إِلا خَدِيْجَةُ فَيَقُولُ لَهَا إِنَّهَا كَانَتْ وَكَانَتْ

“Seakan-akan di dunia ini tidak ada wanita selain Khadijah?!” Maka beliau berkata kepada Aisyah: ‘Khadijah itu begini dan begini.’”13

Dalam riwayat Ahmad pada Musnadnya disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “begini dan begini” (dalam hadits diatas) adalah sabda beliau:

آمَنَتْبِي حِيْنَ كَفَرَ النَّاسُ وَصَدَّقَتْنِي إِذْكَذَّبَنِي النَّاسُ رَوَاسَتْنِي بِمَالِهَا إِذْحَرَمَنِي النَّاسُ وَرَزَقَنِي اللهُ مِنْهَا الوَلَد

“Ia beriman kepadaku ketika semua orang kufur, ia membenarkan aku ketika semua orang mendustakanku, ia melapangkan aku dengan hartanya ketika semua orang meng-haramkan (menghalangi) aku dan Allah memberiku rezki berupa anak darinya.”14

Dialah Khadijah yang seorangpun tak akan lupa bagaimana ia mengokohkan hati Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan memberi dorongan kepada beliau. Dan ia menyerahkan semua yang dimilikinya di bawah pengaturan beliau dalam rangka menyampaikan agama Allah kepada seluruh alam.

Seorangpun tidak akan lupa perkataannya yang masyhur yang menjadikan Nabi merasakan tenang setelah terguncang dan merasa bahagia setelah bersedih hati ketika turun wahyu pada kali yang pertama:

وَاللهُ لا يُخْزِيْكَ اللهُ أَبَدًا إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُوْمَ وَتُعِيْنُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ

“Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Karena sungguh engkau menyambung silaturahmi, menanggung orang lemah, menutup kebutuhan orang yang tidak punya dan engkau menolong setiap upaya menegakkan kebenaran.”15

Jadilah engkau wahai saudari muslimah seperi Khadijah, semoga Allah meridhainya dan meridlai kita semua.

Wasiat kedelapan: Bersyukur (berterima kasih) kepada suami atas kebaikannya dan tidak melupakan keutamaanya.

Siapa yang tidak tahu berterimakasih kepada manusia, ia tidak akan dapat bersyukur kepada Allah. Maka janganlah meniru wanita yang jika suaminya berbuat kebaikan padanya sepanjang masa (tahun), kemudian ia melihat sedikit kesalahan dari suaminya, ia berkata: “Aku sama sekali tidak melihat kebaikan darimu…” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ اَهْلِ النَّارِ فَقُلْنَ يَا رَسُولَ اللهِ وَلَمْ ذَلِكَ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ

“Wahai sekalian wanita bersedekahlah karena aku melihat mayoritas penduduk nereka adalah kalian.” Maka mereka (para wanita) berkata: “Ya Rasulullah kepada demikian?” Beliau menjawab: “Karena kalian banyak melaknat dan mengkufuri kebaikan suami.”16

Mengkufuri kebikan suami adalah menentang keutamaan suami dan tidak menunaikan haknya.

Wahai istri yang mulia! Rasa terima kasih pada suami dapat engkau tunjukkan dengan senyuman manis di wajahmu yang menimbulkan kesan di hatinya, hingga terasa ringan baginya kesulitan yang dijumpai dalam pekerjaannya. Atau engkau ungkapkan dengan kata-kata cinta yang memikat yang dapat menyegarkan kembali cintamu dalam hatinya. Atau memaafkan kesalahan dan kekurangannya dalam menunaikan hakmu. Namun di mana bandingan kesalahan itu dengan lautan keutamaan dan kebaikannya padamu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لا يَنْظُرُ اللهَ إِلَى امْرَأَةٍ لا تَشْكُرُ زَوْجَهَا وَهِيَ لا تَسْتَغْنِيَ عَنْهُ

“Allah tidak akan melihat kepada istri yang tidak tahu bersyukur kepada suaminya dan ia tidak merasa cukup darinya.”17

Wasiat kesembilan: Menyimpan rahasia suami dan menutupi kekurangannya (aibnya).

Istri adalah tempat rahasia suami dan orang yang paling dekat dengannya serta paling tahu kekhususannya (yang paling pribadi dari diri suami). Bila menyebarkan rahasia merupakan sifat yang tercela untuk dilakukan oleh siapa pun maka dari sisi istri lebih besar dan lebih jelek lagi.

Sesungguhnya majelis sebagian wanita tidak luput dari membuka dan menyebarkan aib-aib suami atau sebagian rahasianya. Ini merupakan bahaya besar dan dosa yang besar. Karena itulah ketika salah seorang istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebarkan satu rahasia beliau, datang hukuman keras, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersumpah untuk tidak mendekati isti tersebut selama satu bulan penuh.

Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat-Nya berkenaan dengan peristiwa tersebut.

وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ وَأَظْهَرَهُ اللهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهُ وَأَعْرَضَ عَنْ بَعْضٍ

“Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari isteri-isterinya suatu peristiwa. Maka tatkala si istri menceritakan peristiwa itu (kepada yang lain), dan Allah memberitahukan hal itu kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepada beliau) dan menyembunyikan sebagian yang lain.” (At Tahriim: 3)

Suatu ketika Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam mengunjungi putranya Ismail, namun beliau tidak mejumpainya. Maka beliau tanyakan kepada istri putranya, wanita itu menjawab: “Dia keluar mencari nafkah untuk kami.” Kemudian Ibrahim bertanya lagi tentang kehidupan dan keadaan mereka. Wanita itu menjawab dengan mengeluh kepada Ibrahim: “Kami adalah manusia, kami dalam kesempitan dan kesulitan.” Ibrahim ‘Alaihis Salam berkata: “Jika datang suamimu, sampaikanlah salamku padanya dan katakanlah kepadanya agar ia mengganti ambang pintunya.” Maka ketika Ismail datang, istrinya menceritakan apa yang terjadi. Mendengar hal itu, Ismail berkata: “Itu ayahku, dan ia memerintahkan aku untuk menceraikanmu. Kembalilah kepada keluargamu.” Maka Ismail menceraikan istrinya. (Riwayat Bukhari)

Ibrahim ‘Alaihis Salam memandang bahwa wanita yang membuka rahasia suaminya dan mengeluhkan suaminya dengan kesialan, tidak pantas untuk menjadi istri Nabi maka beliau memerintahkan putranya untuk menceraikan istrinya.

Oleh karena itu, wahai saudariku muslimah, simpanlah rahasia-rahasia suamimu, tutuplah aibnya dan jangan engkau tampakkan kecuali karena maslahat yang syar’i seperti mengadukan perbuatan dhalim kepada Hakim atau Mufti (ahli fatwa) atau orang yang engkau harapkan nasehatnya. Sebagimana yang dilakukan Hindun radliallahu ‘anha di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Hindun berkata: “Abu Sufyan adalah pria yang kikir, ia tidak memberiku apa yang mencukupiku dan anak-anakku. Apakah boleh aku mengambil dari hartanya tanpa izinnya?!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ambillah yang mencukupimu dan anakmu dengan cara yang ma`ruf.”

Cukup bagimu wahai saudariku muslimah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّ مِنْ شَرِ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ أَحَدُهُمَا سِرُّ صَاحِبَهُ

“Sesungguhnya termasuk sejelek-jelek kedudukan manusia pada hari kiamat di sisi Allah adalah pria yang bersetubuh dengan istrinya dan istri yang bersetubuh dengan suaminya, kemudian salah seorang dari keduanya menyebarkan rahasia pasanannya.”18

Wasiat terakhir: Kecerdasan dan kecerdikan serta berhati-hati dari kesalahan-kesalahan.

- Termasuk kesalahan adalah: Seorang istri menceritakan dan menggambarkan kecantikan sebagian wanita yang dikenalnya kepada suaminya, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang yang demikian itu dengan sabdanya:

لا تُبَاشِرُ مَرْأَةُ الْمَرْأَةَ فَتَنْعَتَهَا لِزَوْجِهَا كَأَنَّهُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا

“Janganlah seorang wanita bergaul dengan wanita lain lalu ia mensifatkan wanita itu kepada suaminya sehingga seakan-akan suaminya melihatnya.”19

Tahukah engkau mengapa hal itu dilarang?!

- Termasuk kesalahan adalah apa yang dilakukan sebagian besar istri ketika suaminya baru kembali dari bekerja. Belum lagi si suami duduk dengan enak, ia sudah mengingatkannya tentang kebutuhan rumah, tagihan, tunggakan-tunggakan dan uang jajan anak-anak. Dan biasanya suami tidak menolak pembicaraan seperti ini, akan tetapi seharusnyalah seorang istri memilih waktu yang tepat untuk menyampaikannya.

- Termasuk kesalahan adalah memakai pakaian yang paling bagus dan berhias dengan hiasan yang paling bagus ketika keluar rumah. Adapun di hadapan suami, tidak ada kecantikan dan tidak ada perhiasan.

Dan masih banyak lagi kesalahan lain yang menjadi batu sandungan (penghalang) bagi suami untuk menikmati kesenangan dengan istrinya. Istri yang cerdas adalah yang menjauhi semua kesalahan itu.

Footnote:

1Riwayat Muslim dalam Al-Masajid: (bab Fadlul Julus fil Mushallahu ba’dash Shubhi wa Fadlul Masajid)
2Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud, dishahihkan oleh Al Albany, lihat “Irwaul Ghalil“, no. 1269 dan “Shahihul Jami’” no. 6149
3Lihat kitab “Kaif Taksabina Zaujak?!” oleh Syaikh Ibrahim bin Shaleh Al Mahmud, hal. 13
4Riwayat Ahmad dan Tirmidzi, ia berkata: Hadits hasan gharib. Berkata Al Albany: “Hadits ini sebagaimana dikatakan oleh Tirmidzi.” Lihat takhrij “Misykatul Masabih” no. 5019
5Al Masyakil Az Zaujiyyah wa Hululuha fi Dlaw`il Kitab wa Sunnah wal Ma’ariful Haditsiyah oleh Muhammad Utsman Al Khasyat, hal. 28-29
6Riwayat Ahmad dan Tirmidzi, dishahihkan Al Albany, lihat “Shahihul Jami`us Shaghir” no. 5294
7Riwayat Thabrani dan Hakim dalam “Mustadrak“nya, dishahihkan Al Albany hafidhahullah sebagaimana dalam “Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah” no. 288
8Lihat kitab “Al Kabair” oleh Imam Dzahabi hal. 173, cetakan Darun Nadwah Al Jadidah
9Riwayat Ibnu Nuaim dalam “Al Hilyah“. Berkata Syaikh Al Albany: “Hadits ini memiliki penguat yang menaikkannya ke derajat hasan atau shahih.” Lihat “Misykatul Mashabih” no. 3254
10Hadits lemah, diriwayatkan Hakim dan dishahihkannya dan disepakati Dzahabi. Namun Al Albany mengisyaratkan kelemahan hadits ini. Illatnya pada Ibnu Sukhairah dan pembicaraaan tentangnya disebutkan secara panjang lebar pada tempatnya, lihatlah dalam “Silsilah Al Ahadits Ad Dlaifah” no. 1117
11Semuanya dari riwayat Bukhari dalam shahihnya kitab “Manaqibul Anshar“, bab Tazwijun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Khadijah wa Fadluha radliallahu ‘anha.
12Semuanya dari riwayat Bukhari dalam shahihnya kitab “Manaqibul Anshar“, bab Tazwijun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Khadijah wa Fadluha radliallahu ‘anha.
13Semuanya dari riwayat Bukhari dalam shahihnya kitab “Manaqibul Anshar“, bab Tazwijun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Khadijah wa Fadluha radliallahu ‘anha.
14Diriwayatkan Ahmad dalam Musnadnya 6/118 no. 24908. Aku katakan: Al Hafidh Ibnu Hajar membawakan riwayat ini dalam “Fathul Bari“, ia berkata: “Dalam riwayat Ahmad dari hadits Masruq dari Aisyah.” Dan ia menyebutkannya, kemudian mendiamkannya. Di tempat lain (juz 7/138), ia berkata: “Diriwayatkan Ahmad dan Thabrani.” Kemudian membawakan hadits tersebut. Berkata Syaikh kami Abdullah Al Hakami hafidhahullah: “Mungkin sebab diamnya Al Hafidh rahimahullah karena dalam sanadnya ada rawi yang bernama Mujalid bin Said Al Hamdani. Dalam “At Taqrib” hal. 520, Al Hafidh berkata: “Ia tidak kuat dan berubah hapalannya pada akhir umurnya.” Al Haitsami bersikap tasahul (bermudah-mudah) dalam menghasankan hadits ini, beliau berkata dalam Al Majma’ (9/224): “Diriwayatkan Ahmad dan isnadnya hasan.”
15Muttafaq alaihi, diriwayatkan Bukhari dalam “Kitab Bad’il Wahyi” dan Muslim dalam “Kitabul Iman“
16Diriwayatkan Bukhari dalam “Kitab Al Haidl“, (bab Tarkul Haidl Ash Shaum) dan diriwayatkan Muslim dalam “Kitabul Iman” (bab Nuqshanul Iman binuqshanith Thaat)
17Diriwayatkan Nasa’i dalam “Isyratun Nisa’” dengan isnad yang shahih.
18Diriwayatkan Muslim dalam “An Nikah” (bab Tahrim Ifsya’i Sirril Mar’ah).
19Diriwayatkan Bukhari dalam “An Nikah” (bab Laa Tubasyir Al Mar’atul Mar’ah). Berkata sebagian ulama: “Hikmah dari larangan itu adalah kekhawatiran kagumnya orang yang diceritakan terhadap wanita yang sedang digambarkan, maka hatinya tergantung dengannya (menerawang membayangkannya) sehingga ia jatuh kedalam fitnah. Terkadang yang menceritakan itu adalah istrinya -sebagaimana dalam hadits dia atas- maka bisa jadi hal itu mengantarkan pada perceraiannya. Menceritakan kebagusan wanita lain kepada suami mengandung kerusakan-kerusakan yang tidak terpuji akibatnya.

(Sumber: الأسرة بلا مشاكل karya Mazin bin Abdul Karim Al Farih. Edisi Indonesia: Rumah Tangga Tanpa Problema; bab Sepuluh Wasiat untuk Istri yang Mendambakan “Keluarga Bahagia tanpa Problema“, hal. 59-82. Penerjemah: Ummu Ishâq Zulfâ bintu Husein. Editor: Abû ‘Umar ‘Ubadah. Penerbit: Pustaka Al-Haura’, cet. ke-2, Jumadits Tsani 1424H, dicopy dari http://akhwat.web.id)

Baca selanjutnya...

Aneka Resep Cemilan Anak (2)

Aneka Resep
Cemilan Anak (2)

Kumpulan aneka resep kue berikut merupakan lanjutan  dari posting terdahulu, semoga tetap bersemangat untuk berani mencoba membuat hidangan cemilan sendiri untuk sang buah hati. Selamat mencoba…








Kue Bolu

Bahan:
4 butir telur
150 gram terigu
1 sdm ovalet (pengembang kue)
1 sdm maizena
150 gram gula pasir
3 sdm mentega dicairkan
1 saset fanili bubuk

Cara membuat:
  1. Kocok telur, gula pasir, ovalet dan fanili selama 15 menit sampai menjadi adonan
  2. Masukkan terigu dan maizena sedikit demi sedikit
  3. Tuangkan mentega yang telah dicairkan kemudian aduk rata
  4. Siapkan loyang olesi dengan mentega taburi dengan sedikit tepung terigu
  5. Masukkan adonan kedalam loyang dan panggang selama 15 menit
  6. Angkat, sajikan

Cake jeruk

Bahan:
4 butir telur
75 gram gula pasir
80 gram tepung terigu
½ sdt baking powder
1 sdm sari jeruk bubuk instant siap beli
75 gram margarine, cairkan
 Cara membuat:
  1. Kocok telur dan gula pasir hingga kental dan berwarna putih
  2. Campurkan tepung terigu, baking powdwer, dan sari jeruk sedikit demi sedikit
  3. Tuangkan margarine cair, aduk hingga rata
  4. Masukkan dalam cetakan
  5. Panggang dalam oven selama 15 menit
  6. Angkat, sajikan

Choco Brownies

Bahan:
175 gram margarine
175 gram coklat masak ( dark cooking chocolate), potong-potong
3 butir telur
200 gram gula pasir
150 gram tepung terigu
20 gram coklat bubuk
Cara Membuat:
  1. Ayak tepung terigu dan coklat bubuk menjadi Satu
  2. Tim dark cooking dan margarine hingga cair, angkat
  3. Kocok telur dan gula pasir hingga gula larut, masukkan campuran tepung terigu sedikit demi sedikit, aduk rata
  4. Masukkan larutan coklat, aduk hingga rata
  5. Tuang adonan kedalam loyang, panggang selama 30 menit
  6. Angkat, sajikan

Banana  Cake

Bahan:
250 gram margarine
100 gram gula pasir
100 gram gula palem
5 kuning telur
250 gram tepung terigu
1 sdt baking powder
½ sdt soda kue
1 sdm bumbu spekuk
100 ml susu cair
4 buah pisang ambon, haluskan
1 sdm air jeruk nipis
5 putih telur kocok kaku
Cara membuat:
  1. Siapkan loyang bulat tengahnhya berlubang olesi dengan margarine dan taburi dengan tepung terigu, sisihkan
  2. Ayak tepung trigu, baking powder, soda kue dan bumbu spekuk menjadi satu. Haluskan pisang ambon, tambahkan air jeruk nipis, aduk rata agar tidak cepat berubah warna, sisihkan
  3. Kocok margarine bersama gula palem, dan gula pasir hingga mengembang dan lembut, masukkan kuning telur satu persatu sambil terus kocok hingga mengembang dan tercampur rata
  4. Masukkan campuran tepung trigu, susu cair dan pisang yang telah dihaluskan secara bergantian hingga rata. Masukkan putih telur sedikit demi sedikit
  5. Masukkan dalam loyang dan oven selama 45 menit


Martabak Mini telor

Bahan:
10 lembar kulit lumpia
3 butir telur
100 gram daun bawang
½ liter minyak goreng

Bahan isi:
100 gram daging ayam cincang
1 batang wortel cincang kasar
1 siung bawang putih haluskan
½ sdt garam,haluskan
½ sdt merica haluskan
1 sdt gula pasir, hauskan
1 sdt minyak untuk menumis
(semua bahan diatas dimasak)

Cara Membuat:
  1. Siapkan kulit lumpia
  2. Campurkan isi dengan daun bawang dan telur
  3. Isikan kedalam kulit lumpia dan lipat
  4. Goreng hingga kuning kecoklatan
  5. angkat, sajikan


Bika Ubi

Bahan:
Ubi (kukus dan haluskan) 1 kg
Telur 2 butir
Santan 3 gelas
Gula pasir 250 g
Vanili ½ sendok teh
Wijen secukupnya
Garam secukupnya
Cara:
1. Gula pasir, telur, vanili dan garam dikocok sampai mengembang. Masukkan ubi kukus yang telah dihaluskan kedalam adonan sedikit demi sedikit sambil terus dikocok dengan kecepatan terendah. Setelah ubi tercampur rata masukkan santan sesendok demi

sesendok sambil terus dikocok hingga seluruh santan tercampur rata.
2.Siapkan cetakan, masukkan adonan kedalamnya. Taburi wijen dibagian atasnya
3. Masukkan oven, panggang hingga masak (kurang lebih 20 menit)

Sponge Kukus Warna-warni

Bahan:

2 butir telur
200 gram gula pasir
1 sdt ovalet
250 gram tepung trigu
250 ml susu cair hangat
Pasta pandan, strobery dan moka secukupnya

Cara menbuat:

1.       Siapkan cetakan bolu kukus, alasi dengan kertas cup,sisihkan, panaskan dandang untuk mengukus
2.       Kocok telur bersama gula dan ovalet hingga kental dan berwarna putih
3.       Masukkan terigu secara bergantian dengan susu sedikit demi sedikit sambil diaduk rata
4.       Bagi adonan menjadi 3 bagian, masing-masing bagian diberi pasta pandan, stroberi, dan moka
5.       Tuangkan adonan dalam cetakan, kukus selama 15 menit

Cake Ubi Ungu

Bahan:
Biang:
½ sdt ragi instant
2 sdm air
1 sdm tepung terigu

250 gram ubi ungu, kukus dan haluskan
200 gram terigu
180 gram gula pasir
125 ml santan kental, hangatkan
2 kuning telur
½ sdt vanili bubuk

Cara membuat:
1.       Siapkan cetakan bolu kukus, alasi dengan kertas cup,sisihkan, panaskan dandang untuk mengukus
2.       Adonan biang: campur trigu dengan ragi instant dan air, diamkan selama 15 menit hingga mengembang
3.       Uleni tepung terigu dengan ubi yang telah dihaluskan serta gula pasir hingga gula hancur dan larut, masukkan santan, telur, vanili dan adonan biang aduk hingga menjadi adonan yang rata dan licin
4.       Tutup adonan dengan serbet bersih yang telah dibasahi dan diamkan selama 1 jam hingga mengembang
5.       Masukkan adonan dalam cetakan hingga hamper penuh dan kukus selama 15 menit hingga merekah dan matang, angkat

Baca selanjutnya...

Labels

About This Blog

Followers

About

My photo
Rasulullah bersabda (yang artinya), "Sesungguhnya Islam pertama kali muncul dalam keadaaan asing dan nanti akan kembali asing sebagaimana semula. Maka berbahagialah orang-orang yang asing (alghuroba')."(hadits shahih riwayat Muslim)

  © Free Blogger Templates Blogger Theme II by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP