.. إِنَّكَ لا تَهدى مَن أَحبَبتَ وَلٰكِنَّ اللَّهَ يَهدى مَن يَشاءُ ۚ وَهُوَ أَعلَمُ بِالمُهتَدينَ ..

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu sayangi, tetapi Allah memberi petunjuk
kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk." (AlQasas 28: 56)

Live Streaming

Bismillahirrohmaanirrohiim

"Engkau tidak akan menjadi seorang alim hingga engkau menjadi orang yang
belajar. Dan engkau tidak dianggap alim tentang suatu ilmu, sampai
engkau mengamalkannya."
...Abud Darda' Radhiallahu anhu...

20 October 2010

Cinta Sejati dalam Islam

Cinta Sejati Dalam Islam
Makna ‘Cinta Sejati’ terus dicari dan digali. Manusia dari zaman ke zaman seakan tidak pernah bosan membicarakannya. Sebenarnya? apa itu ‘Cinta Sejati’ dan bagaimana pandangan Islam terhadapnya?
Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Masyarakat di belahan bumi manapun saat ini sedang diusik oleh mitos ‘Cinta Sejati‘, dan dibuai oleh impian ‘Cinta Suci’. Karenanya, rame-rame, mereka mempersiapkan diri untuk merayakan hari cinta “Valentine’s Day”.
Pada kesempatan ini, saya tidak ingin mengajak saudara menelusuri sejarah dan kronologi adanya peringatan ini. Dan tidak juga ingin membicarakan hukum mengikuti perayaan hari ini. Karena saya yakin, anda telah banyak mendengar dan membaca tentang itu semua. Hanya saja, saya ingin mengajak saudara untuk sedikit menyelami: apa itu cinta? Adakah cinta sejati dan cinta suci? Dan cinta model apa yang selama ini menghiasi hati anda?
Seorang peneliti dari Researchers at National Autonomous University of Mexico mengungkapkan hasil risetnya yang begitu mengejutkan. Menurutnya: Sebuah hubungan cinta pasti akan menemui titik jenuh, bukan hanya karena faktor bosan semata, tapi karena kandungan zat kimia di otak yang mengaktifkan rasa cinta itu telah habis. Rasa tergila-gila dan cinta pada seseorang tidak akan bertahan lebih dari 4 tahun. Jika telah berumur 4 tahun, cinta sirna, dan yang tersisa hanya dorongan seks, bukan cinta yang murni lagi.
Menurutnya, rasa tergila-gila muncul pada awal jatuh cinta disebabkan oleh aktivasi dan pengeluaran komponen kimia spesifik di otak, berupa hormon dopamin, endorfin, feromon, oxytocin, neuropinephrine yang membuat seseorang merasa bahagia, berbunga-bunga dan berseri-seri. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, dan terpaan badai tanggung jawab dan dinamika kehidupan efek hormon-hormon itu berkurang lalu menghilang. (sumber: www.detik.com Rabu, 09/12/2009 17:45 WIB).
Wah, gimana tuh nasib cinta yang selama ini anda dambakan dari pasangan anda? Dan bagaimana nasib cinta anda kepada pasangan anda? Jangan-jangan sudah lenyap dan terkubur jauh-jauh hari.
Anda ingin sengsara karena tidak lagi merasakan indahnya cinta pasangan anda dan tidak lagi menikmati lembutnya buaian cinta kepadanya? Ataukah anda ingin tetap merasakan betapa indahnya cinta pasangan anda dan juga betapa bahagianya mencintai pasangan anda?
Saudaraku, bila anda mencintai pasangan anda karena kecantikan atau ketampanannya, maka saat ini saya yakin anggapan bahwa ia adalah orang tercantik dan tertampan, telah luntur.
Bila dahulu rasa cinta anda kepadanya tumbuh karena ia adalah orang yang kaya, maka saya yakin saat ini, kekayaannya tidak lagi spektakuler di mata anda.
Bila rasa cinta anda bersemi karena ia adalah orang yang berkedudukan tinggi dan terpandang di masyarakat, maka saat ini kedudukan itu tidak lagi berkilau secerah yang dahulu menyilaukan pandangan anda.
Saudaraku! bila anda terlanjur terbelenggu cinta kepada seseorang, padahal ia bukan suami atau istri anda, ada baiknya bila anda menguji kadar cinta anda. Kenalilah sejauh mana kesucian dan ketulusan cinta anda kepadanya. Coba anda duduk sejenak, membayangkan kekasih anda dalam keadaan ompong peyot, pakaiannya compang-camping sedang duduk di rumah gubuk yang reot. Akankah rasa cinta anda masih menggemuruh sedahsyat yang anda rasakan saat ini?
Para ulama’ sejarah mengisahkan, pada suatu hari Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu bepergian ke Syam untuk berniaga. Di tengah jalan, ia melihat seorang wanita berbadan semampai, cantik nan rupawan bernama Laila bintu Al Judi. Tanpa diduga dan dikira, panah asmara Laila melesat dan menghujam hati Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu. Maka sejak hari itu, Abdurrahman radhiallahu ‘anhu mabok kepayang karenanya, tak kuasa menahan badai asmara kepada Laila bintu Al Judi. Sehingga Abdurrahman radhiallahu ‘anhu sering kali merangkaikan bair-bait syair, untuk mengungkapkan jeritan hatinya. Berikut di antara bait-bait syair yang pernah ia rangkai:
Aku senantiasa teringat Laila yang berada di seberang negeri Samawah
Duhai, apa urusan Laila bintu Al Judi dengan diriku?
Hatiku senantiasa diselimuti oleh bayang-bayang sang wanita
Paras wajahnya slalu membayangi mataku dan menghuni batinku.
Duhai, kapankah aku dapat berjumpa dengannya,
Semoga bersama kafilah haji, ia datang dan akupun bertemu.
Karena begitu sering ia menyebut nama Laila, sampai-sampai Khalifah Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhu merasa iba kepadanya. Sehingga tatkala beliau mengutus pasukan perang untuk menundukkan negeri Syam, ia berpesan kepada panglima perangnya: bila Laila bintu Al Judi termasuk salah satu tawanan perangmu (sehingga menjadi budak), maka berikanlah kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu. Dan subhanallah, taqdir Allah setelah kaum muslimin berhasil menguasai negeri Syam, didapatkan Laila termasuk salah satu tawanan perang. Maka impian Abdurrahmanpun segera terwujud. Mematuhi pesan Khalifah Umar radhiallahu ‘anhu, maka Laila yang telah menjadi tawanan perangpun segera diberikan kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu.
Anda bisa bayangkan, betapa girangnya Abdurrahman, pucuk cinta ulam tiba, impiannya benar-benar kesampaian. Begitu cintanya Abdurrahman radhiallahu ‘anhu kepada Laila, sampai-sampai ia melupakan istri-istrinya yang lain. Merasa tidak mendapatkan perlakuan yang sewajarnya, maka istri-istrinya yang lainpun mengadukan perilaku Abdurrahman kepada ‘Aisyah istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan saudari kandungnya.
Menyikapi teguran saudarinya, Abdurrahman berkata: “Tidakkah engkau saksikan betapa indah giginya, yang bagaikan biji delima?”
Akan tetapi tidak begitu lama Laila mengobati asmara Abdurrahman, ia ditimpa penyakit yang menyebabkan bibirnya “memble” (jatuh, sehingga giginya selalu nampak). Sejak itulah, cinta Abdurrahman luntur dan bahkan sirna. Bila dahulu ia sampai melupakan istri-istrinya yang lain, maka sekarang iapun bersikap ekstrim. Abdurrahman tidak lagi sudi memandang Laila dan selalu bersikap kasar kepadanya. Tak kuasa menerima perlakuan ini, Lailapun mengadukan sikap suaminya ini kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Mendapat pengaduan Laila ini, maka ‘Aisyahpun segera menegur saudaranya dengan berkata:
يا عبد الرحمن لقد أحببت ليلى وأفرطت، وأبغضتها فأفرطت، فإما أن تنصفها، وإما أن تجهزها إلى أهلها، فجهزها إلى أهلها.
“Wahai Abdurrahman, dahulu engkau mencintai Laila dan berlebihan dalam mencintainya. Sekarang engkau membencinya dan berlebihan dalam membencinya. Sekarang, hendaknya engkau pilih: Engkau berlaku adil kepadanya atau engkau mengembalikannya kepada keluarganya. Karena didesak oleh saudarinya demikian, maka akhirnya Abdurrahmanpun memulangkan Laila kepada keluarganya. (Tarikh Damaskus oleh Ibnu ‘Asakir 35/34 & Tahzibul Kamal oleh Al Mizzi 16/559)
Bagaimana saudaraku! Anda ingin merasakan betapa pahitnya nasib yang dialami oleh Laila bintu Al Judi? Ataukah anda mengimpikan nasib serupa dengan yang dialami oleh Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu?(1)
Tidak heran bila nenek moyang anda telah mewanti-wanti anda agar senantiasa waspada dari kenyataan ini. Mereka mengungkapkan fakta ini dalam ungkapan yang cukup unik: Rumput tetangga terlihat lebih hijau dibanding rumput sendiri.
Anda penasaran ingin tahu, mengapa kenyataan ini bisa terjadi?
Temukan rahasianya pada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:
الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ. رواه الترمذي وغيره
“Wanita itu adalah aurat (harus ditutupi), bila ia ia keluar dari rumahnya, maka setan akan mengesankannya begitu cantik (di mata lelaki yang bukan mahramnya).” (Riwayat At Tirmizy dan lainnya)
Orang-orang Arab mengungkapkan fenomena ini dengan berkata:
كُلُّ مَمْنُوعٍ مَرْغُوبٌ
Setiap yang terlarang itu menarik (memikat).
Dahulu, tatkala hubungan antara anda dengannya terlarang dalam agama, maka setan berusaha sekuat tenaga untuk mengaburkan pandangan dan akal sehat anda, sehingga anda hanyut oleh badai asmara. Karena anda hanyut dalam badai asmara haram, maka mata anda menjadi buta dan telinga anda menjadi tuli, sehingga andapun bersemboyan: Cinta itu buta. Dalam pepatah arab dinyatakan:
حُبُّكَ الشَّيْءَ يُعْمِي وَيُصِمُّ
Cintamu kepada sesuatu, menjadikanmu buta dan tuli.
Akan tetapi setelah hubungan antara anda berdua telah halal, maka spontan setan menyibak tabirnya, dan berbalik arah. Setan tidak lagi membentangkan tabir di mata anda, setan malah berusaha membendung badai asmara yang telah menggelora dalam jiwa anda. Saat itulah, anda mulai menemukan jati diri pasangan anda seperti apa adanya. Saat itu anda mulai menyadari bahwa hubungan dengan pasangan anda tidak hanya sebatas urusan paras wajah, kedudukan sosial, harta benda. Anda mulai menyadari bahwa hubungan suami-istri ternyata lebih luas dari sekedar paras wajah atau kedudukan dan harta kekayaan. Terlebih lagi, setan telah berbalik arah, dan berusaha sekuat tenaga untuk memisahkan antara anda berdua dengan perceraian:
فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ. البقرة 102
“Maka mereka mempelajari dari Harut dan Marut (nama dua setan) itu apa yang dengannya mereka dapat menceraikan (memisahkan) antara seorang (suami) dari istrinya.” (Qs. Al Baqarah: 102)
Mungkin anda bertanya, lalu bagaimana saya harus bersikap?
Bersikaplah sewajarnya dan senantiasa gunakan nalar sehat dan hati nurani anda. Dengan demikian, tabir asmara tidak menjadikan pandangan anda kabur dan anda tidak mudah hanyut oleh bualan dusta dan janji-janji palsu.
Mungkin anda kembali bertanya: Bila demikian adanya, siapakah yang sebenarnya layak untuk mendapatkan cinta suci saya? Kepada siapakah saya harus menambatkan tali cinta saya?
Simaklah jawabannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ. متفق عليه
“Biasanya, seorang wanita itu dinikahi karena empat alasan: karena harta kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya dan karena agamanya. Hendaknya engkau menikahi wanita yang taat beragama, niscaya engkau akan bahagia dan beruntung.” (Muttafaqun ‘alaih)
Dan pada hadits lain beliau bersabda:
إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ. رواه الترمذي وغيره.
“Bila ada seorang yang agama dan akhlaqnya telah engkau sukai, datang kepadamu melamar, maka terimalah lamarannya. Bila tidak, niscaya akan terjadi kekacauan dan kerusakan besar di muka bumi.” (Riwayat At Tirmizy dan lainnya)
Cinta yang tumbuh karena iman, amal sholeh, dan akhlaq yang mulia, akan senantiasa bersemi. Tidak akan lekang karena sinar matahari, dan tidak pula luntur karena hujan, dan tidak akan putus walaupun ajal telah menjemput.
الأَخِلاَّء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ الْمُتَّقِينَ. الزخرف 67
“Orang-orang yang (semasa di dunia) saling mencintai pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (Qs. Az Zukhruf: 67)
Saudaraku! Cintailah kekasihmu karena iman, amal sholeh serta akhlaqnya, agar cintamu abadi. Tidakkah anda mendambakan cinta yang senantiasa menghiasi dirimu walaupun anda telah masuk ke dalam alam kubur dan kelak dibangkitkan di hari kiamat? Tidakkah anda mengharapkan agar kekasihmu senantiasa setia dan mencintaimu walaupun engkau telah tua renta dan bahkan telah menghuni liang lahat?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ. متفق عليه
“Tiga hal, bila ketiganya ada pada diri seseorang, niscaya ia merasakan betapa manisnya iman: Bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibanding selain dari keduanya, ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan dirinya, bagaikan kebenciannya bila hendak diceburkan ke dalam kobaran api.” (Muttafaqun ‘alaih)
Saudaraku! hanya cinta yang bersemi karena iman dan akhlaq yang mulialah yang suci dan sejati. Cinta ini akan abadi, tak lekang diterpa angin atau sinar matahari, dan tidak pula luntur karena guyuran air hujan.
Yahya bin Mu’az berkata: “Cinta karena Allah tidak akan bertambah hanya karena orang yang engkau cintai berbuat baik kepadamu, dan tidak akan berkurang karena ia berlaku kasar kepadamu.” Yang demikian itu karena cinta anda tumbuh bersemi karena adanya iman, amal sholeh dan akhlaq mulia, sehingga bila iman orang yang anda cintai tidak bertambah, maka cinta andapun tidak akan bertambah. Dan sebaliknya, bila iman orang yang anda cintai berkurang, maka cinta andapun turut berkurang. Anda cinta kepadanya bukan karena materi, pangkat kedudukan atau wajah yang rupawan, akan tetapi karena ia beriman dan berakhlaq mulia. Inilah cinta suci yang abadi saudaraku.
Saudaraku! setelah anda membaca tulisan sederhana ini, perkenankan saya bertanya: Benarkah cinta anda suci? Benarkah cinta anda adalah cinta sejati? Buktikan saudaraku…
Wallahu a’alam bisshowab, mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan atau menyinggung perasaan.
***
Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.
Dipublikasi ulang dari www.pengusahamuslim.com
Footnote:
1) Saudaraku, setelah membaca kisah cinta sahabat Abdurrahman bin Abi Bakar ini, saya harap anda tidak berkomentar atau berkata-kata buruk tentang sahabat Abdurrahman bin Abi Bakar. Karena dia adalah salah seorang sahabat nabi, sehingga memiliki kehormatan yang harus anda jaga. Adapun kesalahan dan kekhilafan yang terjadi, maka itu adalah hal yang biasa, karena dia juga manusia biasa, bisa salah dan bisa khilaf. Amal kebajikan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu banyak sehingga akan menutupi kekhilafannya. Jangan sampai anda merasa bahwa diri anda lebih baik dari seseorang apalagi sampai menyebabkan anda mencemoohnya karena kekhilafan yang ia lakukan. Disebutkan pada salah satu atsar (ucapan seorang ulama’ terdahulu):
مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ مَنْ عَابَهُ بِهِ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ
“Barang siapa mencela saudaranya karena suatu dosa yang ia lakukan, tidaklah ia mati hingga terjerumus ke dalam dosa yang sama".

Baca selanjutnya...

Untukmu Aku Berdandan

 Untukmu.... 
AKU BERDANDAN
Seorang istri yang merasa senang dan bangga melihat penampilan suaminya dengan busana serasi lagi sesuai dengan seleranya tentu akan bertambah senang pada suami. Ia juga makin rajin memilihkan dan memadukan busana  yang seharusnya dikenakan oleh suaminya dengan harapan suaminya akan selalu tampil gagah, rapi, dan menarik, tidak saja untuk dipandanginya sendiri tapi ia juga bangga bila suaminya dinilai lebih oleh saudara serta kawan sejawatnya dalam berbusana.


Disaat lain ada seorang suami yang ingin merias istrinya meski dengan kesederhanaan dan kesahajaan. Untuk hal tersebut iapun hendak membuat kejutan buat istri yang ia sayangi. Ketika ada kesempatan iapun memilih busana yang ia suka untuk istrinya, ditambah aksesori seperlunya  disebuah took busana. Harapannya, sang istri akan senang mendapat kejutan, sebagaimana ia juga berharap akan menikmati penampilan istri yang ia sayangi dengan keindahan busana yang telah ia pilih yang dipadukan dengan aksesori yang ia suka dikenakan istrinya.

Kedua keadaan diatas mungkin pernah terjadi pula pada kita, yang pasti kalau kita tilik lebih seksama ternyata ia tidak selamanya membuahkan keuntungan sebab ia bias melanggengkan cinta kasih namun bisa juga “bertepuk sebelah tangan” artinya ia hanya menguntungkan secara sepihak tetapi tidak menguntungkan bagi pihak lain.

ARTI BERDANDAN BAGI PASUTRI

Telah dimaklumi bahwa ketentraman itu ada ketentraman lahir dan ketentraman batin. Ketentraman lahir  diantaranya bisa dipenuhi dengan membuat mata merasa senang dan menikmati apa yang dipandangnya. Sedangkan ketentraman batin merupakan bentuk dari kesolihan agama seseorang.. Bagi pasutri kesenangan dan keindahan mata itu diantaranya ada pada saat melihat betapa menarik dandanan pasangannya, dan sebab itulah Rasulullah menganjurkan bagi kaum laki-laki melihat penampilan wanita yang hendak  dijadikan pendamping hidupnya disamping melihat akhlak dan agamanya. Apa yang dilakukan istri terhadap suaminya  atau suami terhadap istrinya diatas adlah salah satu bukti nyata  akan kebutuhan mereka terhadap ketentraman lahir yaitu menikmati elok dan menariknya dandanan pasangan.

Meski islam datang dengan syariat jilbab bagi kaum wanita mu’minah, namun kita harus ketahui bahwa islam menerapkan syariat jilbab diantaranya adalah untuk memuliakan hak-hak pasutri atas dandanan pasangannya. Sungguh telah keliru orang-orang yang memahami bahwa dengan syariat jilbab menjadikan para suami tidak bisa menikmati dandanan istri, justru sebaliknya dengan jilbab para suami dimuliakan haknya atas keelokan istri-istri mereka, sebab dengan syariat jilbab islam menetapkan bahwa keindahan istri secara umum hanya bagi suami seorang.
Demikian juga dengan jilbab seorang istri akan menunaikan hak suaminya mendapatkan kepuasan lahir dari menikmati penampilannya secara lebih sempurna.

SEBELUM  BERDANDAN

Mungkin benar bahwa  seorang suami dengan sifat kelakiannya suka berdandan agar ia terlihat gagah untuk menarik perhatian istrinya, begitu juga sang istri dengan sifat kewanitaannya suka berdandan untuk mempercantik diri , berkaca dan menikmati kecantikannya. Jika dua sifat itu benar adanya maka harus ada usaha untuk mengarahkannya sehingga pasutri tersebut bisa menuai keuntungan seimbang bukan sepihak.

UNTUKMU AKU BERDANDAN

Berusaha menyenangkan hati pasangan dalam hidup berumah tangga merupakan  sebuah amalan yang dpat mendatangkan kebaikan dalam rangka mengupayakan cinta sehingga keharmonisan dan kasih sayang diantara pasutri dapat terjaga bisa yang salah satunya bisa  di lakukan dengan saling memperhatikan dan menunjukkan penampilannya masing-masing. Berdandan untuk menyenangkan hati suami atau istri sangatlah penting mengingat hal ini bisa membuka pintu cinta kasih pasangan kita.
Yang harus diingat dan dicermati adalah bolehnya kita menampakkan kecantikan seorang istri hanya untuk suami seorang sehingga dalam berdandanpun harus mengikuti koridor syariat yang telah ada.Dimana seorang istri  harus tetap memperhatikan dan bisa membedakan antara dandanan didalam rumah dan diluar rumah.Kebanyakan kaum wanita mereka berdandan justru untuk menampakkan kecantikannya  kepada selain suami mereka sedangkan didalam rumah suami justru berpakaian ala kadarnya. Inilah yang harus diluruskan, justru berdandanlah kalian wahai para istri di rumah suami  sebagus dan semampu kalian guna  menarik hati sang suami, namun tutuplah rapat-rapat , sembunyikanlah kecantikan kalian ketika diluar rumah hal ini semata-mata untuk menjaga hak suami atas kalian serta kehormatan diri. Semoga kita bisa meraih banyak kebaikan dan pahala bersama dalam hidup berumah tangga.

Baca selanjutnya...

19 October 2010

Saudariku Engkaukah Mawar Indah Itu?

 Saudariku,
Engkaukah Mawar Indah itu?

Bunga mawar itu melalui malam hari dengan kekhusuan. Tidak menguncup setelah mekarnya meski diterpa angin dinginnya malam. Mawar itu telah mekar bukan hanya sejak kemarin. Dan akan senantiasa indah dikala malam, pagi dan disepanjang hari. Siapa yang tidak tertegun melihat keelokan sekuntum mawar yang tumbuh subur, mekar dan basah oleh embun pagi, bahkan takkan layu oleh tatapan sinar mentari? Serasa segar dan meneduhkan pandangan mata. Semua hati ingin memilikinya, lalu menanamnya ditaman sendiri. Namun kemanakah ia harus dicari?

Seorang wanita disisi suami laksana mawar ditaman. Suamilah yang akan menikmati keelokannya, dan hanya untyuk suami mawar itu tampil menggoda. Sebab suami adalah pemilik yang merawat dan yang memeliharanya. Namun wanita mana yang elok seelok mawar ditaman yang hanya mekar untuk suami?.

Pertanyaan tersebut tidak akan didapatkan jawabannya selain sifat-sifat keelokannya yang disebutkan oleh Allah ialah sifat istri sholikhah. Ialah istri idaman dan istri pujaan. Ialah istri yang elok bahkan lebih elok dari sekuntum mawar yang mekar dan menawan. Ia lebih anggun dan jauh lebih anggun dari warna-warninya mawar ditaman pasutri. Ialah yang Allah firmankan dalam Adalah-Quran: “…maka wanita yang sholih ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)…(QS: An-Nisa’:34)

Allah menyebut kesholihan seorang wanita itu ada pada dua sifat saja. Ialah seorang Qonitah yang berarti taat dan hafizhoh yang berarti pemelihara.

Aduhai betapa sejuk dan menawannya sebuah taman pasutri yang makmur oleh kesholihan istri yang senantiasa taat pada perintah dan anjuran kebaikan Allah Robbnya juga taat pada perintah dan anjuran kebaikan suaminya. Betapa tentram hati suami sebagai pemilik dan penguasa taman yang dihiasi oleh seorang qonitah. Dan betapa sempurna ketenangan dan ketentraman suami yang istrinya juga seorang hafizhoh.
Ya, hafizhoh suami mana yang tidak menaruh kepercayaan penuh pada istrinya, bila istrinya seorang hafizhoh? Suami mana yang masih was-was akan istrinya dirumah tat kala ia harus beranjak berjalan dimuk a bumi mencari karunia ilahi bila istrinya seorang yang rapih dalam memelihara diri dan kehormatannya, dan rapih dalam memelihara harta yang dipercayakan padanya oleh suaminya? Suami mana yang masih tidak merasa aman akan istrinya bila istrinya seorang hafizhoh, memelihara hak-hak Allah dan hak-hak suaminya dikala suaminya tidak hadir disisinya dan dengan sangat setia dan senantiasa sabar dalam penantian sebagaimana yang diperintahkan Dzat Yang Maha Rohman?.

Sungguh benar, seorang yang sholihah itu ialah mawar mekar harum semerbak mewangi hanya untuk Allah Rabbnya dan untuk suaminya tercinta. Adalah seorang wanita solikhah itu, yang istiqomah agamanya, yang senantiasa taat pada suaminya dan memelihara hak-hak suaminya yang ada pada dirinya dan pada harta suaminya. Dan adalah wanita terbaik itu seperti yang dituturkan Rasulullah : “ Dari Abu Hurairoh berkata : nabi ditanya tentang wanita seperti apa yang paling baik, beliau bersabda: yaitu wanita yang menyenangkan suami bila ia memandangnya, menaatinya bila ia perintah, dan tidak menyelisihi sesuatu yang ia tidak suka pada dirinya dan pada hartanya.”(HR: Imam Ahmad dan An-Nasa’i)

Engkaukah wahai saudariku wanita sholihah itu? Engkaukah wahai saudariku mawar yang  elok ditaman itu? Wahai saudariku para istri, jadilah engkau mawar-mawar dambaan dan pujaan, yang didamba oleh suamimu yang kau cintai dan dipuji oleh Dzat yang Maha tinggi. Dan bila bukan engkau mawar-mawar  indah di taman itu wahai saudariku, maka seraya memohon ma’unah dari Allah, perbaikilah mereka wahai saudaraku para suami, perbaikilah istri-istrimu, dan Allah jualah Dzat yang  akan melimpahkan taufiqnya kepada siapa yang dikehendakiNya..

Baca selanjutnya...

Romantika Merajut Cinta Sejati

 Romantika Merajut Cinta Sejati
Pernikahan sumber keberkahan
Pernikahan merupakan sarana untuk meraih keberkahan  hidup maupun kecukupan materi, maka tidak ada alas an badi laki-laki maupun wanita untuk menunda-nunda pernikahan apalagi menolak jodoh yang sudah cocok dari sisi agama dan akhlak, seperti yang telah ditegaskan Rasuluklah dalam sabdanya:
Jika ada seorang laki-laki dating kepadamu yang telah kalian ridhoi agama dan akhlaknya maka nikahkanlah dan jika tidak kamu lakukan maka akan terjadi fitnah dn kerusakan” ( HR: Tirmidzi dengan sanad yang hasan )

Segera menikah terutama bagi wanita sangatlah bagus, untuk menjaga kehormatan dan kesucian diri. Jangan menunda-nunda pernikahan hanya karena alasan studi, kerja, atau karir sebab menikah merupakan sumber kebahagiaan dan ketenangan hidup yang bisa  mengganti kenikmatan belajar, kerja, atau karir. Sebalikanya, nikmatnya pernikahan  tidak bisa diganti dengan nikmatnya belajar, kerja atau karir meskipun sampai pada puncak kesuksesan.
Pernikahan sebagai wahana untuk melestarikan keturunan yang paling aman, mendidik generasi umat paling manfaat, menyempurnakan agama paling tepat, menyalurkan syahwat paling sehat, memupuk cinta dan kasih saying yang paling mantap, dan menjaga diri dari perkara yang diharamkan sesuai dengan fithroh manusia. Pernikahan juga menjadi factor utam untuk ketenangan hati dan ketentraman batin sehingga masing-masing pasangan meraih kesempurnaan dalam beribadah, kesuksesan dalam mencari ilmu, dan keberhasilan dalam berkarya.
Dari anas bin Malik bahwasanya Rasulullah bersabda: “ barangsiapa yang telah dikaruniani istri yang sholikhah maka allah telah membantu separuh agamanya maka hendklah bertaqwa kepada Allah dalam separuh agama yang lain”( HR: Hakim dan beliau menyatakan shohih dan disetujiu oleh Adz-dzahabi).

Ketika kasih sayang Jadi Pelipur lara

Rasa kasih sayang dan ketentraman yang tumbuh dalam hati suami dan istri merupakan bagian dari nikamat Allah. Dengan bantuan istri seorang suami mampu mengatasi berbagai macam persoalan dan kesuliatan dalam menunaikan tugas maupun beban berat pekerjaan, hati terhibur pada saat hati dirundung berbagai musibah dan penderitaan,dan seorang istri mampu membantu suami dalam beramal sholih, melakukan aksi sosial, dan menolong orang-orang lemah. Begitu juga suami menjadi pelindung, pengayom, dan Pembina bagi istrinya, serta memberikan hak-haknya secara sempurna.

Media Mencari Ilmu Bermanfaat

Semua pasangan baik suami dan istri harus mengenal Allah secara baik dalam hatinya, sehingga bisa merasakan kenikmatan bermunajat, meraskan manisnya berdzikir, berdoa, bermunajat dan berkhidmat kepada Allah.Tidak ada yang bias mendapatkan itu kecuali orang yang telah mendapat pengetahuan yang cukupo tentang agama dan diwujudkan dalam realita ketaatan kepada Allah dalam keadaan sepi maupun ramai.
Bila suami istri telah merasakan cinta, takut, dan berharap hanya kepada  Allah, maka dia telah mengenal Rabbnya dengan baik dan pengenalan secara khusus sehingga bila meminta akan diberi dan bila memohon akan dikabulkan. Seorang hamba pasti akan mengalami kesulitan dan kesedihan baik didunia, dialam kubur, maupun dipadang Maghsyar, jika dia memiliki ilmu dan ma’rifat yang mampu mengenal Allah secara baik maka semua itu akan menjadi ringan dan Allah akan mencukupkannya.
Sesungguhnya ilmu yang bermanfaat adalah ilmu  yang bersuber dari kitabullah dan sunnah Rasululah serta ijma’ para sahabat seperti yang telah ditegaskan Imam Adz-dzahabi. Kami memohon kepada Allah ilmu yang bermanfaat, tahukah kamu apa yang dimaksud ilmu yang bermanfaat? yaitu ilmu yang dating dari Adalah-Quran dan dijelaskan Rasulullah melalui ucapan dan perbuatannya serta tidak ada dalila yang melarang untuk mempelajarinya (syiar Alamin Nubula)

Keagungan Nikmat Hidayah

Persoalan rumah tangga dan cara menghidupkan dakwah serta usaha untuk memperbaiki keluarga merupakan masalah yang sangat penting mengingat rumah tangga adlah wahana utama pendidikan dan bangunan utama untuk membentuk sebuah masyarakat yang bernuansa iala secara kaffah ( integral).
Nikmat Allah yang paling agung yang dikaruniakan kepada hambanya adalah nikmat hidayah kepada agama yang  hanif  yang lurus dan sampai ke jalan yang lurus sehingga nanti dihari kiamat meraih kemuliaan dan surga yang penuh dengan kenikmatan. Allah berfirman: “ Dan kami cabut segala macam dendam yang berda dalam dada mereka, mengalir dibawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata, “ segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada surga ini. Dan kami sekali-kali tidak mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi petunjuk. Sesungguhnya telah dating Rasul-rasul Rabb kami, membawa kebenaran, dan diserukan kepada mereka, “ itulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.”( QS : Adalah- A’raf:: 43).
Hidayah memiliki peran penting dankedudukan agung dan tidak ada yang mampu menghargai nilai hidayah kecuali orang yang telah merasakannya dan tidak ada yang mengetahui cahaya hidayah kecuali orang yang telah mencicipi pahitnya kesesatan. Apalagi ketika mereka melihat orang-orang tersesat dan tidak meraih taufiq kepada jalan yang lurus sehingga mereka merugi dihari kianmat dan masing-masing mengungkapkan penyesalan mereka sebagaimana firman Allah:”…Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertaqwa.( QS: Az-Zummar: 57).

 Ketika Cinta Hakiki Bersemi

Rasa cinta bagaikan pohon didalam hati yang akarnya adalah kepatuhan kepada sang kholik, batangnya adalah ma’rifat kepada Nya dan cabangnya adalah rasa takut kepadaNya. Daun-daunya adalah rasa malu terhadapnya dan buahnya adalah ketaatan kepadaNya.Kecintaan yang tidak memiliki factor-faktor tersebut berarti cintanya tidak sempurna.
Barangsiapa yang mampu mencintai Allah berdasarkan ilmu maka ia akan mendapatkan hati yang khusu’, jiwa yang kona’ah dan doa yang didengar. Dan siapaun yang tidak mencintai Allah maka ia terjerat dengan empat perkara yang Rasulullah telah memohon perlindungan darinya dalam doa beliau: “ Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat dari hati yang tidak khusu’ dari jiwa yang tidak merasa puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan”( HR: Muslim 73/6907).
Barangsiapa yang ingin mencintai secara benar dan sejati sehingga taman surga dapat diraih dan kebahagiaan abadi mampu didapat maka hendaklah mencoba mewarnai kehidupan dengan cinta yang murni dan sejati, yaitu mencintai pasangan hidup karena Allah dan Rasul-Nya, hamba kekasih Rabb yang Maha Pengasih.


Sumber: Al-Mawaddah


Baca selanjutnya...

Keharmonisan Rumah Tangga


 Keharmonisan
Rumah tangga


sebuah perbuatan merefleksikan sebuah niat. Demikian pula dengan pernikahan dua orang manusia, laki-laki dan perempuan berangkat dari sebuah niat, yaitu niat yang melahirkan gambaran tujuan kedua insane yang  sedang mulai mengarungi samudra rumah tangga. Dari banyak dan beragamnya pasutri, tentu beraneka ragam niat serta tujuan pernikahan mereka..Namun mewujudkan tujuan dan cita-cita pernikahan tidaklah semudah membalik telapak tangan, serta tidak begitu saja niat pernikahan membuahkan kebahagiaan di kemudian hari.

Tidak dipungkiri bahwa pernikahan adalah sumber keberkahan bagi pasutri. Pernikahan juga lahan memadu cinta kasih yang telah dikaruniakan oleh Allah kepada mereka berdua, Allah berfirman: “Dan diantara tanda-tanda kekuasaannya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”( QS. Ar-Rum:21)

Namun bercinta dan berkasih sayang bukanlah satu-satunya tujuan pernikahan, sehingga pasutri hanya terpaku dan sibuk memadu cinta dan kasih sayangnya, sementara mereka tidak tahu hendak dibawa kemana dan dijadikan apa cinta dan kasih sayang yang dipadunya. Ketahuilah, ia sekedar sarana yang Allah anugrahkan  sebagai pengantar pasutri menuju ketujuan pernikahan yang sangat luhur lagi mulia. Pernikahan adalah sarana  terwujudnya keharmonisan, yang dengannya pasutri harus bersama menjalani segala upaya dengan usaha nyata menuju cita-cita tinggi nan bermartabat.

Allah SWT mensyariatkan pernikahan, sehingga mudah semestinya pasutri meniatkan pernikannya hanya unttuk Allah SWT semata. Dan Allah SWT menetapkan  tegaknya rumah tangga islam sebagai muara akhir pernikahan. Yaitu tegaknya sebuah keluarga terdiri dari pasutri yang sholih dan sholikhah, yang dengan kehendak Allah SWT akan menurunkan keturunan yang shgolih dan sholikhah juga. Dengan bekal kesholikhan tersebut mereka bersama-sama merealisasikan ketuslus ikhlasan pengabdian kepada RabbNya, itulah hakikat dan tujuan pernikahan yang sesungguhnya.. Bila demikian pernikahan adalah hal yang sangat besar urusannya, bukan hal sepele dan sederhana. Ia merupakan hal yang sangat agung seagung tujuan yang ditetapkan Allah SWT yang mensyariatkannya.

Ketahuilah, keagunagan tersebut hanya bisa diraih dengan bekal iman, yauitu keimanan yang membuahkan amal-amal sholih. Keagungan itu akan didapat oleh setiap pasutri yang mampu memadukan langkahnya, bersama-sama membina keharmonisan sejati.Yaitu pasutri yang harmonis meniju keridhoan Allah SWT, memadu langkah bersama  menuju kecintaan ilahi itulah cinta yang sejati, cinta hamba kepada sesamanya yang membuahkan cinta kepada dan dari dzat yang maha Pencipta

Baca selanjutnya...

18 October 2010

Cinta dan kasih sayang pangkal ketrentaman berumah tangga


Cinta dan Kasih Sayang
Pangkal Ketentraman Berumah tangga

Tidak jarang seorang wanita yang baru saja dipersunting mengeluh perihal dirinya. Ia merasa telah berbuat banyak untuk pendamping barunya, tetapi yang banyak itu belum pernah ia rasakan hasilnya. Ia belum mendapati bunga cinta dan kasih sayang yang ia pernah dambakan dari pasangannya. Lalu, muncul pertanyaan, “ bagaimana caranya agar saya bisa menumbuhkan rasa cinta di hati suami saya?”

Pasutri yang lain, yang telah sekian tahun menjalani hidup bersama dalam suka maupun duka pun terkadang mengeluh tentang hubungan mereka berdua yang terasa makin hambar saja. Pasalnya bukan tidak bisa bersama lagi, namun kehidupan yang mereka jalani terasa berlalu begitu saja dengan tidak menyisakan sesaat atau dua saat untuk menikmati indahnya cinta dan kasih sayang. Singkat kata, mereka mempertanyakan, “ mengapa bunga – bunga cinta diantara kami mulai layu?”.

Cinta dan kasih sayang merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan pasutri. Dengannya Allah menjadikan mereka berdua hidup bersama dalam ketenangan dan kedamaian. Bila ia tiada maka akan terasa berat bagi mereka berdua untuk menjalani hidup bersama. Hal itu karena kebersamaan tak mungkin akan terjalin tanpa cinta dan kasih sayang.

Allah berfirman: “Dan diantara tanda-tanda kekuasaannya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”( QS. Ar-Rum:21)

 Sehingga kita bisa membayangkan bagaimana  kegalauan hati seorang istri yang baru saja menjalani hidup bersama suaminya yang kita misalkan diatas, maupun kegalauan suami bila hal yang sama menimpanya. Ternyata kegalauan disaat yang demikian ialah wajar, sebab mereka tentu sangat membutuhkan cinta dan kasih saying disetiap saat dari kehidupan mereka dalam berkeluarga.
Begitu pula wajar bila sebuah pasutri sempat berfikir serius tentang semakin layunya cinta kasih diantara mereka berdua, sebab boleh dikata cinta kasih merupakan kebutuhan asasi mereka berdua saat ini.

Sebenarnya masalah ini bukan muncul begitu saja tanpa sebab, dan tidak pula sebab-sebabnya terlalu sulit atau tidak didapati solusinya. Hanya saja yang menjadikan perkara ini lebih rumit adalah terkadang pasutri tidak memahami sebab-sebab tersebut, sebagian lagi tidak memahami kenyataan layunya cinta kasih mereka, dan sebagian lainnya tidak memahami tentang siraman terbaik agar cinta dan kasih sayang tetap tumbuh dan membuahkan ketentraman hidup berumah tangga.
Bahkan mungkin diantara mereka ada yang tidak memahami sama sekali semua hal itu. Bila demikian bagaimana mereka bisa hidup damai, tenang, tentram, dan bahagia?

Semoga kita tidak termasuk diantara mereka yang tidak memahami arti penting cinta dan kasih sayang dalam hidup bersama dengan suami maupun istri kita. Dan semoga kita termasuk pasutri maupun calon pasutri yang memahami arti sekaligus mengetahui proporsi tepat dalam bercinta dan berkasih sayang dalam hidup berumah tangga sehingga akan kita gapai kebahagiaan yang diridhoiNya, Amin.


Baca selanjutnya...

17 October 2010

Surat Terbuka untuk Istri yang Kucinta

Surat terbuka
untuk istri yang kucinta
Oleh : Abu Ammar  al-Ghoyami

Aku tidak tahu darimana harus memulai menuliskan beberapa rumpun kalimat buatmu, wahai istriku. Aku juga tidak tahu apakah kepolosanku dan ketulusanku ini akan mendapat sambutanmu. Tapi aku tiada pedulikan itu. Yang pasti, aku hanya ingin engkau tahu bahwa aku adalah suamimu.

Aku tahu bahwa sebagai suami ternyata aku sangat membutuhkanmu, aku katakan ini sejujurnya. Lalu apakah engkau juga sangat membutuhkan aku, suamimu, wahai istriku? Maafkan aku atas pertanyaan ini. Bukan aku meragukan cintamu padaku, aku hanya ingin menyakinkan diriku. Sebab kebanyakan istri kerabat maupun sahabat-sahabatku pun sangat besar rasa butuhnya terhadap suami mereka. Oleh sebab itulah aku mencarimu untuk kujadikan istri, sebab engkau adalah seorang wanita yang sholikhah, sopan santun, mulia , bertaqwa, suci, menjaga diri, dan penuh kasih sayang.

Istriku, aku tidak segan berterus terang kepadamu, meski hanya dalam bentuk goresan tinta ini diatas lembaran kertas yang juga milik kita, bahwa aku sangat membutuhkanmu. Dan aku tidak menginginkan dai itu semua selain agar tumbuh rasa dalam dada kita berdua akan pentingnya saling menjaga hubungan baik diantara kita. Dan bahwa hubungan yang baik itu jauh lebih mulia daripada kita berlomba-lomba dengan maksud agar diketahui siapa diantara kita berdua yang lebih unggul. Aku berharap engkau sendiri telah memahaminya.

Istriku, jujur aku katakan bahwa keberadaanmu sebagai istri bagiku sangat penting bagi diriku, akalku, hati serta jiwaku. Bahkan sangat penting bagi kehidupanku. Maka kutuliskan suratku ini untukmu, semoga engkau benar-benar mengerti  betapa tingginya kedudukanmu sebagai seorang istri, betapa berastnya wasiat agamakita yang telah dibebankan kepadaku setelah aku menikahimu, dan batapa beratnya dirimu bagiku, suamimu.

Istiku, jujur kukatakan, bagiku engkau laksana permata yang sangat berharga yang tadinya aku tak tahu kemana aku harus mencari. Sungguh dunia ini penuh dengan perhiasan, sampai aku tidak kuasa memilih perhiasan mana yang harus kuambil untuk kumiliki, sampai akhirnya Allah memberikan petunjuk kepadaku, suamimu ini, yang telah payah dan lelah mencarimu sampai akhirnya aku menemukanmu dan menjadikanmu sebagai istri. Aku memuji Allah dengan sebanyak-banyak pujian baginya, aku tidak mengada-ada untuk sekedar membesarkan hatimu, namun begitulah Rasulullah telah menyatakannya:
Dunia ini tiada lain hanyalah perhiasan, dan tak ada satupun dari perhiasan dunia ini yang lebih utama daripada istri yang sholikhah”.( HR: Ibnu Mjjah)
Semoga engkau mengeri ini

Istriku, jujur kukatakan, bagiku engkau adalah sumber kebahagiaan dan penderitaanku. Engkau adalah penghias rumah tempat tinggalku dan kendaraan mewahku, dan engkau adalah sebaik-baik tetanggaku. Aku memuji Allah dengan sebanyak-banyak pujian bagiNya. Aku tidak mengada-ada untuk mendapat tempat dihatimu, namun begitulah Rasulullah telah mengabarkannya:
Ada empat hal yang termasuk kebahagiaan, istri sholikhah, rumah yang lapang nan luas, tetangga yang sholih, dan kendaraan yang nyaman. Dan ada empat hal yang termasuk kesengsaraan: tetangga yang jelek (akhlaknya), istri yang jelek (akhlaknya), rumah yang sempit dan kendaraan yang tak nyaman.”(HR:Ibnu Hibban)

Istriku, tahukah  kau bahwa aku bias berbahagia bersamamu dan bisa sengsara lagi menderita olehmu? bukan aku tidak percaya kepadamu bahwa engkau akan membahagiakanku, tentunya engkau bias memilih. Sebab aku sudah tahu engkau adalah seorang  wanita yang memiliki kecerdasan, apakah engkau akan menjadi sumber kebahagiaanku atau menjadi sumber pendeitaanku ? Aku memuji Allah dengan sebanyak-banyak pujian bagiNya, aku berbahagia bersamamu diatas keberkahan hidup bersamamu yang telah dianugrahkan kepadaku, tentunya juga kepadamu. Aku merasa bahagia meski menurut orang lain aku sengsara, aku tidak menyesali banyaknya penderitaan, namun aku sangat berharap keberrkahannya, semoga engkau mengerti ini.

Istriku, jujur kukatakan tiada sebuah rumah pun yang akan kupandang indah dan kurasa nyaman meski seluas apapun rumah itu bila aku tinggal di dalamnya tanpamu, Aku memuji Allah dengan sebanyak-banyak pujian bagiNya, sungguh aku bangga padamu, istriku, karena kini aku rasakan rumahku begitu teduh, tentram, dan nyaman bagiku setelah engkau yang menjadi pendampingku sejak pernikahan dulu, semoga engkau mengerti ini.

Istriku, jujur kukatakan, tiada kendaraan mewah yang nyaman aku kendarai meski apaun jenisanya dan berapa rupiahpun harganya jika engkau tidak bersamaku diatas kendaraan itu. Aku memuji Allah dengan sebanyak-banyak pujian bagiNya,sebab aku merasa tiada tetangga yang berdampingan denganku saat ini, baik di rumahku maupun di kendaraanku yang kurasakan kesholikhannya selain dirimu, semoga engkau mengerti ini.

Istriku, sejujurnya kukatakan, bagiku engkau adalah ukuran kebaikanku di duniku. Semoga engkau tahu dan memahami ini. Betapa berat amanah yang telah dipikulkan atasa pundakku setelah kau menikahimu. Aku diwasiati untuk mnejagamu, bahkan aku diingatkan sekali lagi, dan berikutnya, demi kebaikanmu. Aku mengetahui hal ini bikan sekedar mengikuti perasaanku, juga bedasarkan buaian mimpiku., bukan pula dari lamunan dan hayalanku. Namun aku mengerti dan paham lalu aku yakini sabda dari seorang seorang manusia yang tidak didustakan kabarnya dan tidak dimaksiati perinyahnya. Tahukah dirimu bahwa beliau telah menjadikan bagaimana caraku mempergaulimu dalam kebersamaan ini sebagai tanda baik burukny akhlakku? Beliau pernah bersabda :
Kaum mukminin yang paling sempuna imannya yang paling baik akhlaknya, dan orang yanh paling baik diantara kalian ialah yang paling baik akhlaknya terhadap istrinya.”(HR: Tirmidzi)

Oleh karenanya istriku, aku tidak ingin menjadi seorang yang berakhlak buruk sebab tidak bisa berbuat baik kepadamu, dan aku berharap engkau membantuku agar aku bias memperbaiki akhlakku yauitu dengan memudahkan caraku agar bias berbuat baik kepadamu, semoga engkau mengerti ini.

Istriku, bila engkau mendapati kebaikanku, sesungguhnya aku tidak berharap perhatianmu, aku juga tidak berharap pujianmu.Namun aku hanya ingin semoga Allah menjadikanmu istri yang sholikhah yangh berbuat baik kepaku. Dan bila engkau mendapati aku tidak berbuat baik kepadamu, semoga kesholikhanmu bias membuka pintu maafmu bagiku, dan semoga Allah memaafkan atas kekhilafanku.

Istriku, sebenarnya masih banyak yang ingin aku goreskan dalam lembaran ini, namun aku cukupkan dengan mengatakan diujung suratku ini, bahwa pada akhirnya engkau adalah pelabuhan bahteraku yang aku akan erasa tenang setelah tadinya jiwaku diliputi kecemasan dan ketakutan akan dalam dan dahsyatnya gelombanmg samudra kehidupan saat masih sendiri sebelum kehadiran seorang istri, dan bagiku ialah dirimu. Aku memuji Allah dengan sebanyak-banyak pujian kepadaNya, dan semoga Dia memberkahi hari-hari kita berdua dalam suka maupun duka.

Diri yang mencintaimu karena Allah, dan untuk Allah, aku, suamimu.

Baca selanjutnya...

Labels

About This Blog

Followers

About

My photo
Rasulullah bersabda (yang artinya), "Sesungguhnya Islam pertama kali muncul dalam keadaaan asing dan nanti akan kembali asing sebagaimana semula. Maka berbahagialah orang-orang yang asing (alghuroba')."(hadits shahih riwayat Muslim)

  © Free Blogger Templates Blogger Theme II by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP